“Belum berani kalau sendiri. Ini bareng dia (pacar) aja jadi berani naik. Kalau enggak, mending naik taksi sampai dekat rumah,” kata Nadia, (23) saat ditemui detikcom di Halte TransJ Grogol 2, Jakarta Barat, Jumat (6/6/2014) pukul 01.00 WIB.
Nadia mengungkapkan hampir setiap hari dia selalu menggunakan TransJ. Rumahnya yang di Taman Mini, Jakarta Timur, memungkinkan dia menggunakan bus bertarif Rp 3.500 itu ke kantornya di kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. Namun, dia berani sendiri bila pulang kerja di sore hari.
Tapi kalau pulang larut malam, rasa takut menghantui karena suasana bus TransJakarta terlihat sepi. “Aduh kagak deh. Mending minta jemput bokap atau naik taksi saja. Serem Mas, sepi di atas pukul 23.00 WIB. Kita kan cewek soalnya,” ujar Nadia yang bekerja sebagai kasir itu.
Begitupun dengan Niken (29). Warga Grogol, Jakarta Barat, ini bakal selalu mengajak suaminya untuk naik TransJakarta bila ada keperluan di malam hari. Seperti dini hari tadi, Niken yang terus menggandeng suaminya di dalam bus TransJ. Dia berharap fasilitas pelengkap seperti lampu cahaya penerang di jembatan penyeberangan serta toilet minimal ada di setiap halte.
“Kalau di bawah pukul 21.00 WIB masih berani. Tapi, kalau sendirian di atas pukul 22.00 enggak deh, takut. Takut enggak aman. Fasilitas lain juga harus lengkapilah. Ini kan anggarannya gede,” katanya.
(hat/fdn)











































