Salah seorang penumpang, Ari Deden (28), mengaku senang dengan beroperasinya bus TransJ secara 24 jam. Tapi, dia merasa waswas kalau menggunakan Transjakarta pada malam hari. Alasannya, petugas yang minim dan jarangnya fasilitas pelengkap seperti lampu cahaya penerangan.
"Tadi saya rada takut mas nyeberang ke sini. Banyak pengamen sama gembel lagi tidur. Kita enggak tahu itu dia rampok atau bukan. Kalau kita tiba-tiba ditusuk bagaimana," kata Ari saat ditemui detikcom di halte TransJ Kuningan Barat, Jumat (6/6/2014) dini hari.
Dia berharap jumlah petugas yang berjaga sepadan dengan keselamatan penumpang. Kalau hanya dua orang petugas dan cuma berjaga di loket pembayaran terkesan percuma.
"Kita nunggu aja, penjahat bisa masuk manjat ke sini. Ini kan Jakarta sudah ditebak. Minimal di tempat tunggu ada satu orang lah," kata pegawai swasta itu.
Hal senada dikatakan Paulus Ong (54). Dia merasa bersyukur dengan beroperasinya TransJ kini hadir 24 jam. Namun dia mengeluhkan kurangnya petugas termasuk fasilitas pendukung seperti menambah lampu penerangan di jembatan halte.
“Kita ini orang tua kan takut. Jalur jalan keluar sama masuknya di jembatan penyeberangan orangnya agak serem. Dikasihlah lampu sama petugas jaga," ujar Paulus.
Selain itu, yang perlu diubah menurutnya adalah karakter standar pelayanan minimum harus dipraktikan. Dia menyindir sering kali sopir TransJ yang tancap gas melebihi batas maksimal kecepatan 50 km/jam.
"Kemarin saya di koridor 1. Ya ampun ngebutnya sopir bikin jantungan. Berhenti dadakan terus kalau mau dekat halte. Kita ini orangtua kok dibikin deg-degan jantung," katanya.
(hat/fdn)











































