Proyek sodetan Ciliwung baru berjalan satu bulan. Namun, ditengah gencarnya upaya pemerintah menyelesaikan masalah banjir di Jakarta, warga Bidaracina malah menolak pembebasan lahan yang dilakukan tim Panitia Pembebasan Lahan (P2T) untuk area pintu masuk atau inlet sodetan.
Padahal proyek sepanjang 1,27 kilometer ini menghabiskan anggaran Rp 493 miliar yang ditarget rampung pada Februari 2015 mendatang. Adapun lahan yang terkena pembebasan berada di RW 04, 05 dan 14 Bidaracina.
Ketua RW 04 Bidaracina, Galuh Radiyah (35) mengatakan setidaknya terdapat ratusan kepala keluarga yang terkena dampak proyek itu. Mayoritas warganya menolak pembebasan lahan.
“Warga kami menolak lahannya dibebaskan kalau ganti rugi tidak sesuai. Bayangkan saja mas, rumah bagus-bagus begini masa dibongkar," ujar Galuh saat ditemui di kediamannya, Kamis (5/6/2014).
Ia mengungkapkan jika nilai ganti rugi lebih rendah dari harga tanah di Jakarta saat ini, bisa saja menyebabkan warga kehilangan tempat tinggal. Warga akan kesulitan mencari rumah baru.
"Terus kami pindah ke mana. Coba bayangkan kalau nilai ganti rugi tak sesuai, kami mau tinggal dimana lagi. Sedangkan di sini kami dari lahir sudah tinggal di sini,” imbuhnya.
Galuh mengharapkan ada win-win solution dari pihak pemerintah. "Ya, kita lihat ke depan nanti seperti apa perkembangan dan situasinya. Yang pasti kan proyek tetap berjalan, namun juga tolong hak warga jangan diabaikan begitu saja,” imbuh Galuh.
Senada dengan ketua RW 04, Sudarno ketua RW 05 mengatakan di wilayahnya warga yang terkena dampak sekitar 100 Kepala Keluarga. Meski begitu, kebanyakan lokasi ini merupakan lahan kosong
“Saat ini informasinya terputus karena sosialisasinya belum ada lagi. Tahapan inventarisir lahan yang akan dibebaskan belum 100 persen selesai. Kami juga belum mendapatkan informasi lanjut dan kepastian dari kelurahan, kecamatan maupun pihak terkait dalam pembebasan lahan, dalam hal ini tim di P2T,” tutup Sudarno
(edo/slm)










































