"Waktu zaman itu banyak pejabat yang banyak pandai bicara tak ada yang nyata seperti JK. Saya tahu historinya karena saya dulu Menteri Pertahanan GAM. Kalau tidak ada beliau yang damai, tak dapat mimpi Aceh damai," ujar Zakaria, Jumat (5/6/2014).
Hal ini diungkapkannya di rumah salah seorang pengusaha ternama Aceh, H Muhammad Syekh Umar, di Jl Profesor A. Madjid Ibrahim (simpang Camat Tijue), Pidie, Sigli, Aceh.
Pujian juga datang dari Surya Paloh di sela-sela pidatonya. Pria yang mengenakan jas hitam ini menceritakan bagaimana perjuangan dan kesanggupan JK dalam menerima ultimatumnya untuk mendamaikan Aceh kala itu.
"Di sinilah peran JK sebagai wapres, saya memberikan ultimatum kepada beliau kalau dalam waktu 6 bulan tidak bisa menyelesaikan konflik Aceh saya siap mengambil alih wapres. Dia dengan mantap jawab siap. Dia adalah sosok yang rendah hati dan bisa berkomunikasi dengan siapa saja," terang Surya yang disambut riuh tepuk tangan ribuan orang yang memadati panggung.
Mendengar puja-puji ini, JK hanya dapat tersenyum sambil sesekali menganggukan kepalanya. Begitu tiba gilirannya berpidato, ia tak henti-henti menyampaikan rasa terima kasihnya hingga dapat terwujudnya bumi Serambi Mekah yang damai.
"Alhamdulillah saya merasa beruntung mengalami 3 masa di sini. Pada saat masa konflik saya sbg Menkokesra. Jam 7 malam di sini sepi karena Teuku Zakaria ada di sana bersama kawan-kawannya. Pada masa tsunami saya juga menyaksikannya secara lgsg bagaimana seluruh benda dan harta habis. Saya ada dan alhamdulillah turut membantu. Bagaimana bisa mewujudkan itu semua tanpa ada perdamaian. Di mana pun ujung dunia ini kita lakukan karena Aceh harus dapat perdamaian," ucap JK.
"Bapak dan Ibu tentu menikmati perdamaian. Saya 2004 dapat mandat dari Aceh. 2009 tidak dapat. Semoga 2014 dapat mandat. Masih banyak hal yang harus diselesaikan," tutupnya.
(trq/trq)











































