SSSG: Jokowi Pembawa Perubahan, Prabowo Status Quo

SSSG: Jokowi Pembawa Perubahan, Prabowo Status Quo

- detikNews
Kamis, 05 Jun 2014 15:39 WIB
SSSG: Jokowi Pembawa Perubahan, Prabowo Status Quo
Jakarta - Sosok calon presiden Jokowi dianggap sosok yang lebih menjanjikan terciptanya perubahan dalam pemerintahan di Indonesia. Sedangkan lawannya, capres Prabowo Subianto dianggap akan membawa pemerintahan dalam status quo.

"Kalau melihat pada aspek-aspek survei, dari hasil survei ini orang tampaknya masih melihat Jokowi adalah perubahan. Dan Pak Prabowo tampaknya masih di status quo," kata Direktur Eksekutif Suegeng Sarjadi School of Government (SSSG) Fadjroel Rachman ketika berbincang dengan detikcom, di Hotel Four Season, Jakarta Selatan, Kamis (5/6/2014).

Aspek survei yang dimaksudnya kata dia, yakni soal kejujuran, perhatian kepada rakyat, ketegasan, bersih dari KKN, berpikir jauh ke depan, mampu mengatasi permasalahan di Indonesia serta slogan-slogan yang digunakan.

Prabowo-Hatta unggul dalam hal ketegasan dan slogan 'Indonesia Bangkit'. Adapun Jokowi-JK unggul dalam semua aspek lain yang disurvei, kecuali dua poin tersebut.

"Nilai kejujuran dianggap orang sebagai bagian dari keinginan untuk berubah ke depan. Begitu juga yang anti korupsinya, kita perlu pemimpin yang bersih dan jujur sehingga mampu melompat secara moral. Dari aspek itu, orang terlihat masih memihak Jokowi sebagai pembawa perubahan," bebernya.

Namun, Fadjroel melanjutkan, keberadaan JK membuat nilai Jokowi jadi berkurang sebagai pembawa perubahan. Jusuf Kalla dianggap masih bagian dari sistem pemerintahan yang lama, sehingga kebaruan tak bisa diharapkan akan banyak terjadi.

"Seandainya pasangannya Abraham Samad, maka poin dia akan melesat. Orang akan menyebutnya sebagai pasangan perubahan. Kalau sekarang ini agak tersendat sedikit, tapi kalau Pak Prabowo tersendat banyak (sebagai pembawa perubahan)," ujarnya.

Sebelumnya, di tempat yang sama, beberapa panelis diskusi juga menyebut hal yang sama. Menurutnya, Prabowo dan Jokowi, yang sama-sama mendorong perubahan. Namun langkah mereka terhambat karena menggandeng pasangan wakil presiden yang diduga akan membuat pemerintahan jadi status quo.

"Ada yang mengatakan Jokowi itu pro perubahan, tapi setelah dipasangkan dengan JK kemudian tenggelam lagi, karena JK tokoh lama. Kalau dia pilih tokoh baru, mungkin lebih gencar, harapannya tinggi dan kemungkinan dipilih juga lebih tinggi. Sementara Prabowo kelihatannya hanya melanjutkan tradisi yang ada,” kata Budiarto Shambazy, pengamat politik yang juga mantan wartawan.

Sementara Hamdi Muluk, Pakar Psikologi UI berujar, Prabowo juga masih berpikir dengan cara lama jika hanya menonjolkan kemewahan, deklarasi besar-besaran, koalisi besar, artis-artis serta gagasan besar. Hal ini berbeda dengan Jokowi yang berpikir sederhana dan problem solving.

"Asumsinya, menurut mereka (kubu Prabowo) bangsa ini terpuruk, jadi perlu tampilan pemimpin besar, gagasan besar. Naik kuda, naik lexus, helikopter. Gitu ya. Pemimpin besar itu besar dalam segala hal. Sementara Jokowi-JK bersahaja, apa adanya, malah cenderung ndeso banget," ungkapnya.

(rmd/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads