Wacana tersebut mengemuka di acara "Rilis Telesurvei Soegeng Sarjadi School of Government Presiden dan Wakil Presiden Pilihan Rakyat 2014" di Hotel Four Seasons pada Kamis (5/6/2014). Beberapa peneliti dan pengamat, hadir dalam acara tersebut terdiri dari Christianto Wibisono, Soegeng Sarjadi, serta Budiarto Shambazy.
Seperti yang diketahui sebelumnya, kampanye hitam banyak terjadi pada Pemilu kali ini. Contohnya saja, terbitnya tabloid yang menjelek-jelekkan kubu Jokowi-JK. Sejumlah tudingan juga mengalir di media sosial.
"Kemudian, kejadian saat Fahri Hamzah membocorkan hasil cek kesehatan Prabowo. Itu kan rahasia negara. KPU dan Bawaslu kelihatannya pasif sekali menghadapi kampanye hitam yang terjadi. Adanya pembiaran ini membuat saya khawatir. Padahal ini masih awal," ujar pengamat politik Budiarto Shambazy.
Budiarto berpendapat, pasangan Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK merupakan sosok yang suportif sehingga bisa menerima kekalahan. "Hanya saja, mesin kampanye mereka itu yang kelihatannya tidak bisa dikontrol," terang Budiarto.
Sementara itu, pendiri Global Nexus Institute Christianto Wibisono mengatakan perlu adanya keterbukaan dari para calon pemimpin mengenai apa saja yang mau dikerjakan. Selain itu, perlu juga untuk mengumumkan sejarah, jejak rekam, serta jangan menutupi masalah yang ada.
Christianto juga mengatakan bahwa seluruh masyarakat harus berperan serta dalam menciptakan Pemilu yang damai. "Media harus mengontrol terus supaya tidak terjadi kekerasan dan pelanggaran dalam Pemilu ini," ujar pria keturunan Tionghoa yang pernah menjadi korban kerusuhan Mei 1998 ini.
Ia juga menambahkan, Pemilu harus berlangsung damai. Jangan sampai Jakarta jadi seperti Bangkok atau Kairo, yang berujung pada kekerasan.
Terkait presiden mendatang, Christianto berharap ada yang dapat memperbaiki sistem birokrasi dan logistik, serta menaati hukum internasional. "Kalau orang mau minta izin (birokrasi), jangan tiga bulan selesai. Tiga hari selesai dong,"
"Presiden yang baru harus punya menteri dan kabinet yang profesional, yang mengerti apa yang harus dilakukan dan dihadapi, serta mampu melakukan negosiasi internasional," terangnya.
Ia juga mengkritik biaya logistik Indonesia yang sangat buruk bila dibandingkan dengan negara lain. "Biaya logistik dari Pontianak ke Jakarta lebih mahal dibandingkan biaya logistik dari Jakarta ke Shanghai," ujarnya.
Sementara itu, Pendiri Lembaga Riset Soegeng Sarjadi Syndicate mengungkapkan bahwa sebuah negara akan menjadi lebih maju pada 100 tahun mendatang apabila bisa mengatasi masalah yang teejadi saat ini. Ia mengimbau agar masyarakat dapat memilih secara rasional sosok pemimpin yang bisa menyelesaikan permasalahan Indonesia. "Kita pilih pesiden bukan pendeta atau ulama. Jadi jangan perang agama, damailah," ujarnya.
(mad/mad)











































