Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengakui hal tersebut. Meski Indonesia memiliki daratan dan lautan yang luas, namun minim lokasi latihan tempur.
"Kita memang miskin daerah latihan. Satu lagi di Kaltim, dan itu juga sudah sering," kata Moeldoko di KRI Makassar, Rabu (4/6/2014).
Moeldoko mengatakan, pihaknya kesulitan menembakkan peluru dan rudal jarak jauh. Sebab lokasi latihan TNI sangat terbatas.
"Rekan-rekan juga tahu bahwa daerah latihan tentara banyak dihuni masyarakat sehingga sulit untuk kami latihan," keluhnya.
Maka menurutnya kawasan Asembagus ini merupakan salah satu kawasan yang paling ideal untuk latihan gabungan. Dari sisi laut, darat maupun udara, kawasan Asembagus dinilai paling komplit dan relatif lebih mudah dijangkau.
"Sehingga untuk itulah di seputaran sini cukup memadai. Pertimbangan sebetulnya sangat taktis," katanya.
Skenario latgab, menurutnya disesuaikan dengan segala kemungkinan yang mungkin terjadi saat ini. Namun ia kembali menegaskan bahwa TNI miskin daerah latihan.
Untuk latgab tahun ini, menurutnya ada perubahan doktrin. Sebelumnya doktrin yang dianut Indonesia mengikuti Amerika. Namun belakangan dinilai doktrin tersebut tidak cocok.
"Kalau kita mengembangkan secara taktikal, Amerika berperang di luar negaranya. Sehingga ada perubahan doktrin itu ," katanya.
Sementara menurutnya Indonesia tidak diajarkan untuk menyerang negara lain. "Namun perang di negeri sendiri," tutup Moeldoko.
(kff/ahy)











































