Sekilas, Jonathan tampak menyedihkan. Dengan pakaian lusuh dan wajah menghiba, Jonathan mungkin dapt menarik simpati dan rasa iba siapun yang melihatnya. Tapi siapa sangka, penghasilannya mungkin dapat menyaingi gaji pekerja kantoran.
"Kalau lagi bagus bisa tiga ratus ribu sehari. Ya mati-matinya lima puluh ribu,"ujarnya saat dipapah masuk ke dalam truk berjeruji besi milik Sudin Sosial Jakarta Selatan, Rabu (4/6/2014).
Dirinya ditangkap petugas gabungan yang terdiri dari Satpol PP Kebayoran Baru dan Sudin Sosial Jakarta Selatan saat beraksi di Jalan Raya Melawai, Kebayoran Baru. Dia mengaku sudah keluar-masuk Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Cipayung sebanyak empat kali sejak menjadi pengemis di Jakarta beberapa tahun yang lalu.
"Habis saya mau kerja apa lagi, ya cuma begini," ungkapnya memelas.
Dalam keterangan tertulisnya, Kasi Pelayanan dan Rehabilitasi Sudin Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda mengatakan, kalau penyandang disabilitas tubuh memang memiliki kecenderungan sulit untuk direhabilitasi. Dengan memanfaatkan kecacatannya, Jonathan dapat dengan mudah memancing belas kasihan dari masyarakat.
"Dia sudah tahu dan terus manfaatkan cacat fisiknya untuk mendapatkan uang, berbeda halnya kalau dia kerja formal, dengan keringat bercucuran, belum tentu mendapatkan uang sebanyak mengemis," jelas Miftahul.
Namun, tambah Miftahul, kebiasaan Jonathan tersebut tidak bisa serta merta disalahkan. Pilihan Jonathan untuk mengemis secara langsung bersumber dari masih banyaknya para pengguna jalan yang memberikan uang.
"Istilahnya ada gula ada semut, kalau nggak ada yang kasih, pengemis juga akan berkurang. Walaupun kasihnya sedikit, seribu atau dua ribu, tapi kalau dijumlahkan dalam sehari lumayan juga, apalagi kalau sebulan, bahkan kalah gaji PNS," tutup Miftahul.
(rni/ndr)











































