Genap tiga hari Ahok menjabat menjadi Plt Gubernur DKI Jakarta. Kesibukan Ahok kian bertambah. Ia mengaku sempat terkejut ketika mengetahui banyaknya surat-surat yang harus diperiksa dan ditandatanganinya.
Namun begitu, Ahok pun bertekad tancap gas menyelesaikan permasalahan Jakarta. Suami Veronika Tan ini menjadwalkan blusukan tiap weekend dan tengah malam.
Berukut 3 rutinitas baru yang membuat Ahok kaget saat menggantikan Jokowi:
|
|
|
|
|
|
1. 'Gunungan' Surat
|
|
"Saya baru tahu kalau berkas-berkas yang harus diperiksa gubernur itu banyak sekali," kata Basuki T Purnama saat berbincang santai dengan wartawan di ruang kantornya di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (3/6/2014).
Ahok selama ini memang lebih banyak menghabiskan jam kerjanya di dalam kantor. Tak seperti Jokowi yang sering blusukan, Ahok banyak rapat dan mendesposisi berkas-berkas yang masuk sebagai tembusan untuk wakil gubernur.
"Banyak surat-suratnya. Ya dari menteri-menteri. Selama ini kan saya hanya lihat yang tembusan aja. Ternyata banyak juga," ujarnya.
Menjabat sebagai PLT gubernur tak banyak mengubah pola kerja Ahok. Ia juga memilih tetap berkantor di ruang kerjanya di lantai 2 yang ditempatinya saat masih berstatus wakil gubernur.
Selain berkas-berkas, ia bercerita merasa ada yang berbeda saat ia memimpin Rapim kemarin yang menjadi kali pertama sejak di tetapkan sebagai PLT.
"Dulu sambil dengar laporan kepala dinas, aku masih bisa koordinasi dengan bisik-bisik ke pak Jokowi. Tapi kalo mimpin sendiri sudah sering kok," ujarnya.
Ahok akan menjabat sebagai PLT gubernur hingga proses pilpres selesai. Setidaknya posisi tersebut akan didudukinya hingga Oktober 2014.
1. 'Gunungan' Surat
|
|
"Saya baru tahu kalau berkas-berkas yang harus diperiksa gubernur itu banyak sekali," kata Basuki T Purnama saat berbincang santai dengan wartawan di ruang kantornya di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (3/6/2014).
Ahok selama ini memang lebih banyak menghabiskan jam kerjanya di dalam kantor. Tak seperti Jokowi yang sering blusukan, Ahok banyak rapat dan mendesposisi berkas-berkas yang masuk sebagai tembusan untuk wakil gubernur.
"Banyak surat-suratnya. Ya dari menteri-menteri. Selama ini kan saya hanya lihat yang tembusan aja. Ternyata banyak juga," ujarnya.
Menjabat sebagai PLT gubernur tak banyak mengubah pola kerja Ahok. Ia juga memilih tetap berkantor di ruang kerjanya di lantai 2 yang ditempatinya saat masih berstatus wakil gubernur.
Selain berkas-berkas, ia bercerita merasa ada yang berbeda saat ia memimpin Rapim kemarin yang menjadi kali pertama sejak di tetapkan sebagai PLT.
"Dulu sambil dengar laporan kepala dinas, aku masih bisa koordinasi dengan bisik-bisik ke pak Jokowi. Tapi kalo mimpin sendiri sudah sering kok," ujarnya.
Ahok akan menjabat sebagai PLT gubernur hingga proses pilpres selesai. Setidaknya posisi tersebut akan didudukinya hingga Oktober 2014.
2. Tanda Tangan Kian Banyak
|
|
"Sama saja, dari awal kan juga bareng (dengan Jokowi). Berubahnya cuma tandatangannya aja tambah banyak. Kalau dulu kan nggak tanda tangan, cuma paraf saja," ujar Ahok sesaat sebelum memulai rapim dengan para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (2/6/2014).
Meski harus banyak tanda tangan, Ahok mengaku tak ada pekerjaan rumah yang ditinggalkan Jokowi untuk dirinya. "Sama saja, nggak ada perubahan," katanya.
Ahok juga mengaku meski statusnya kini sebagai PLt Gubernur, dia tak akan pindah rumah ke rumah Gubernur DKI. "Pindah kantor? Pindah rumah? masih di sini lah, rumah juga rumah sendiri. ngapain pindah," ucapnya.
Hari ini Ahok memimpin rapim bersama para SKPD. Ahok sendiri sudah tiba di Balaikota DKI sejak pukul 07.30 WIB. Dia terlihat mengenakan kemeja batik warna cokelat. Rapim dimulai sekitar pukul 08.30 WIB.
Beberapa SKPD yang hadir di antaranya, Kepala Dinas Perumahan DKI Yonathan Pasodung, Kepala Dinas Kesehatan Dien Emmawati, Kepala Dinas Pendidikan Lasro Marbun, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Manggas Rudy Siahaan, Kepala Dinas Perindustrian dan Energi Haris Pindratno dan Kepala Dinas Kebersihan Saptastri Ediningtyas.
2. Tanda Tangan Kian Banyak
|
|
"Sama saja, dari awal kan juga bareng (dengan Jokowi). Berubahnya cuma tandatangannya aja tambah banyak. Kalau dulu kan nggak tanda tangan, cuma paraf saja," ujar Ahok sesaat sebelum memulai rapim dengan para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (2/6/2014).
Meski harus banyak tanda tangan, Ahok mengaku tak ada pekerjaan rumah yang ditinggalkan Jokowi untuk dirinya. "Sama saja, nggak ada perubahan," katanya.
Ahok juga mengaku meski statusnya kini sebagai PLt Gubernur, dia tak akan pindah rumah ke rumah Gubernur DKI. "Pindah kantor? Pindah rumah? masih di sini lah, rumah juga rumah sendiri. ngapain pindah," ucapnya.
Hari ini Ahok memimpin rapim bersama para SKPD. Ahok sendiri sudah tiba di Balaikota DKI sejak pukul 07.30 WIB. Dia terlihat mengenakan kemeja batik warna cokelat. Rapim dimulai sekitar pukul 08.30 WIB.
Beberapa SKPD yang hadir di antaranya, Kepala Dinas Perumahan DKI Yonathan Pasodung, Kepala Dinas Kesehatan Dien Emmawati, Kepala Dinas Pendidikan Lasro Marbun, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Manggas Rudy Siahaan, Kepala Dinas Perindustrian dan Energi Haris Pindratno dan Kepala Dinas Kebersihan Saptastri Ediningtyas.
3. Cuti Jokowi Kelamaan
|
|
"Makanya kelamaan (cuti) saya juga kaget," kata Ahok di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat,
Ahok mengatakan, awalnya dia mengira jika cuti Jokowi berakhir setelah hari pencoblosan Pilpres 9 Juli 2014. Namun ternyata, cuti Jokowi berakhir setelah adanya ketetapan presiden dan wapres.
"Saya berpikir, habis 9 Juli, 10 Juli Pak Gubernur "Hei, aku batal, aku nggak cuti lagi deh", tapi begitu selesai, sudah tahu dong. Balik lagi (cuti) sampai nunggu hasil," jelas Ahok.
"Ternyata ini bukan cuti, ini diberhentikan sementara oleh presiden. Diberhentikannya itu sampai penetapan KPU. Kalau ada sanggahan segala macam, bisa sampai September, sampai pelantikan. Pokoknya sampai penetapan deh," tambah Ahok.
Ahok juga menjelaskan, jika Jokowi tidak terpilih jadi Presiden RI, maka harus kembali lagi menjadi Gubernur DKI. Namun jika terpilih, maka Jokowi harus mengajukan mundur dari Gubernur.
"Kalau nggak terpilih kan balik (jadi Gubernur). Dan kalau terpilih (jadi presiden), kan penetapan, langsung nunggu. Beliau (Jokowi) juga pasti akan mengajukan mundur juga. PLt kan sama tugasnya tetap, sampai diproses. Kalau gubernur mundur, juga tetap PLt," jelasnya.
3. Cuti Jokowi Kelamaan
|
|
"Makanya kelamaan (cuti) saya juga kaget," kata Ahok di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat,
Ahok mengatakan, awalnya dia mengira jika cuti Jokowi berakhir setelah hari pencoblosan Pilpres 9 Juli 2014. Namun ternyata, cuti Jokowi berakhir setelah adanya ketetapan presiden dan wapres.
"Saya berpikir, habis 9 Juli, 10 Juli Pak Gubernur "Hei, aku batal, aku nggak cuti lagi deh", tapi begitu selesai, sudah tahu dong. Balik lagi (cuti) sampai nunggu hasil," jelas Ahok.
"Ternyata ini bukan cuti, ini diberhentikan sementara oleh presiden. Diberhentikannya itu sampai penetapan KPU. Kalau ada sanggahan segala macam, bisa sampai September, sampai pelantikan. Pokoknya sampai penetapan deh," tambah Ahok.
Ahok juga menjelaskan, jika Jokowi tidak terpilih jadi Presiden RI, maka harus kembali lagi menjadi Gubernur DKI. Namun jika terpilih, maka Jokowi harus mengajukan mundur dari Gubernur.
"Kalau nggak terpilih kan balik (jadi Gubernur). Dan kalau terpilih (jadi presiden), kan penetapan, langsung nunggu. Beliau (Jokowi) juga pasti akan mengajukan mundur juga. PLt kan sama tugasnya tetap, sampai diproses. Kalau gubernur mundur, juga tetap PLt," jelasnya.
Halaman 2 dari 10











































