Rombongan LPSK yang dipimpin Wakil Ketua Edwin Partogi diantaranya menemui Julius Filicianus yang baru saja menjalani operasi dan masih dirawat di RS Panti Rapih Yogyakarta. Mereka juga menemui korban lainya Nurwahid dan jurnalis Kompas TV, Micahel Aryawan.
"Kami datang untuk menemui para korban kekerasan yang terjadi rumah Julius," ungkap Edwin kepada wartawan di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (3/5/2014).
Menurut Edwin, sebelum ke Yogyakarta, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Komnas HAm mengenai adanya perlindungan terhadap korban. di RS Pantih Rapih, LPSK bertemu dengan Julius dan Nur Wahid.
"Kami juga sudah berbicara dengan korban terutama peristiwa yang dialami dan menawarkan adanya perlindungan dari apa yang dialami," katanya.
Michael Aryawan seusai berbicara dengan perwakilan LPSK mengungkapkan keluh-kesahnya karena ada kecenderungan negara akan meninggalkan korban kekerasan atau dibiarkan begitu saja setelah peristiwa itu terjadi. Sebab saat ini hampir semua korban masih merasa was-was dan terintimadasi setelah kejadian tersebut.
Michael mengatakan pihaknya juga telah berbicara dengan atasannya yakni Kabiro Kompas TV Yogyakarta, Daeng Tanto mengenai diterima atau tidak tawaran yang akan diberikan oleh LPSK. Atasanya menyatakan akan menerima dan mengikuti apa langkah-langkah yang akan diambil LPSK.
"Untuk tawaran tersebut kami menerima," katanya.
Sementara itu sosiolog UGM, Dr Najib Azca menambahkan fenomena kekerasan yang terjadi di Yogyakarta ini sangat merisaukan baik yang terjadi di rumah Julius maupun kasus gereja Kristen di Pangukan, Tridadi, Sleman. Kasus tersebut merupakan tamparan keras bagi Yogyakarta yang dikenal dengan sebutan city of tolerance.
"Ini jadi tamparan keras bagi warga Yogyakarta, negara harus melindungi warganya," katanya
(bgs/ndr)










































