Din: Soal BPI, Muhammadiyah Tertipu Mitra Bisnis Lama
Selasa, 21 Des 2004 14:56 WIB
Jakarta - Wakil Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan terjadinya masalah di Bank Persyarikatan Indonesia (BPI) karena ditipu oleh mitra bisnis lama. Namun demikian, pihaknya akan tetap bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di Bank Persyarikatan."Memang ada masalah. Kita tertipu oleh mitra bisnis yang lama. Namun kita tidak akan lari dari tanggung jawab. Kita akan bertanggung jawab," kata Wakil Din Syamsuddin di kantor PP Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya, Jakarta Pusat, Selasa (21/12/2004).Sebagai tindak lanjut, menurut Din, sekarang ini telah dibentuk tim manajemen baru untuk mengatasi krisis. Selain itu pengurus BPI juga telah mendatangkan investor, meski belum ada kesepakatn final. "Kita telah bertemu dengan beberapa investor. Tapi kita belum tanda tangani perjanjian," katanya.Nah, yang menarik adalah mitra bisnis lama Muhammadiyah. Meskipun Din tak menyebutkan nama, sudah menjadi rahasia umum bahwa orang yang dimaksud adalah Lulu L Harsono. Mantan direktur utama Bank Pikko ini dikenal dekat dengan Muhammadiyah 4 tahun terakhir. Bahkan ia dipercaya menjalankan beberapa Badan Usaha Milik Muhammadiyah, seperti menjadi Wakil Direktur Solar Global International dan PT Surya Husada. Dari Lulu L Harsono inilah Bank Swansarindo mendekat ke Muhammadiyah, dan para petinggi Muhammadiyah menjadi pemegang saham. Namun, tak selang lama terjadi pembobolan terhadap Bank BNI Radio Dalam dan Halim, Jakarta, yang melibatkan nama Lulu dan Bank Swansarindo. Lulu pun diperiksa polisi dan PP Muhammadiyah melakukan verifikasi terhadap keterlibatan Lulu.Lulu, mesti tidak lagi menjadi pimpinan BPI, namun dialah yang akan dituntut tanggung jawabnya. Namun, kabar buruk terjadi. Lulu meninggal dunia pada awal Desember 2004 lalu. Kabarnya, Lulu meninggal di Singapura. Tanwir Muhammadiyah di Mataram 5 Desember 2004 lalu juga telah menyinggung masalah ini. Menurut sumber detikcom, meninggalnya Lulu, tentu menjadi persoalan tersendiri, karena dialah yang bisa menjelaskan proses pembentukan BPI sebenarnya. Kabar meninggalnya Lulu, sempat membuat Dawam Rahardjo, tokoh Muhammadiyah yang berperan dalam pembuatan BPI, shock. "Setelah Lulu meninggal, Pak Dawam sempat masuk ke UGD RS. Dalam kasus BPI ini, Muhammadiyah telah rugi banyak," kata dia.
(jon/)











































