"Sekarang ini langsung head to head, langsung final," kata SBY saat berpidato di acara rapat koordinasi nasional pemantapan Pilpres 2014 di Jakarta, Selasa (3/6/2014).
Ini berbeda dengan pilpres tahun 2004 yang diikuti 5 peserta. Saat itu pilpres harus dihelat dua putaran karena tak ada pasangan yang memperoleh suara 50 persen ditambah 1. Pada pilpres 2009 meski satu putaran menurut SBY ada tiga peserta, sehingga tak bisa disebut head to head.
Pilpres yang hanya diikuti dua pasangan calon ini tentu memunculkan sejumlah dampak. Salah satunya fenomena perang di media sosial, baik di Twitter maupun Facebook. Presiden pun mengaku memantau aktivitas pendukung capres dan cawapres itu di jejaring sosial.
"Saya kadang-kadang senang, karena rakyat peduli dengan politik. Tapi saya prihatin kadang-kadang kata-kata ungkapan melebihi dari kepatutan," kata SBY.
Dampak pilpres hanya diikuti dua pasangan menurut SBY juga akan menghemat anggaran negara. Anggaran yang semestinya digunakan untuk pilpres putaran dua bisa dialokasikan untuk kepentingan lain. Apalagi saat ini kondisi perekonomian dunia lagi tidak benar-benar sehat.
"Gunakan anggaran dengan sebaik-baiknya, dana yang kita keluarkan besar, pastikan tidak terjadi penyimpangan, pertanggungjawabkan dengan baik," kata SBY.
(erd/van)











































