Embrio Partai Muhammadiyah Dideklarasikan 10 Januari 2005
Selasa, 21 Des 2004 10:16 WIB
Jakarta - Anak-anak muda Muhammadiyah serius membuat parpol baru untuk mengakomodir hak-hak politik warga Muhammadiyah. Kini, organisasi persiapan pembentukan partai sudah dibentuk. Namanya, Perhimpunan Amanat Muhammadiyah (PAM). PAM dideklarasikan 10 Januari 2005. Pembentukan PAM berdasarkan hasil kesepakatan rapat Tim 12 pada Senin (20/12/2004) malam. Tim 12 ini beranggotakan, antara lain Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Abdul Mu'thi, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ahmad Rofiq, Rizal Sukma, Bachtiar Effendy, Imam Daaruquthni, Sudar Siandes, ketua umum PP IRM, dan ketua umum PP Nasyiatul Aisyiyah (NA). "Berdasarkan rapat tadi malam, kita bersepakat membentuk Perhimpunan Amanat Muhammadiyah yang akan dideklarasikan di depan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng 10 Januari 2005," kata Ahmad Rofiq saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (21/12/2004). Menurut Rofiq, PAM dibentuk sebagai organisasi embiro pendirian partai Muhammadiyah. Untuk langkah awal, PAM akan bergerak dalam bidang kultural terlebih dulu dan memberikan respons terhadap kebijakan pemerintah yang bersifat lokal maupun nasional. "Perhimpunan ini juga untuk melihat bagaimana respons masyarakat, terutama warga Muhammadiyah terhadap ide pembentukan partai alternatif tersebut," ungkapnya. Selain itu, kata Rofiq, PAM juga untuk mengkonsolidir kekuatan jaringan Muhammadiyah sampai ke desa-desa. "Setelah PAM nanti kita deklarasikan, selanjutkan akan kita deklarasikan ke daerah-daerah edi seluruh Indonesia secara sambung menyambung," kata dia. Rencananya, PAM akan melakukan aktivitasnya selama satu tahun. "Setelah satu tahun, dan ternyata respons masyarakat bagus dan jaringan di seluruh Indonesia sudah berdiri, maka kita akan memindahkan PAM ini menjadi partai politik. Nama partainya masih belum ditentukan," ungkapnya. Menurut Rofiq, ada dua hal yang dijadikan dasar pembentukan partai alternatif ini. Pertama, aspirasi politik Muhammadiyah harus tertampung secara khusus. Selama ini dirasakan tidak ada kekuatan parpol mana pun yang dapat dijadikan sandaran politik Muhammadiyah, termasuk PAN (Partai Amanat Nasional). Kedua, pembentukan partai alternatif ini sebagai amanat Tanwir Muhammadiyah di Mataram awal Desember lalu. Tanwir merekomendasikan kepada Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) untuk membuat parpol, namun tidak boleh tergesa-gesa. Saat ditanya apakah pembentukan partai alternatif ini juga sebagai bargaining Muhammadiyah terhadap PAN yang akan berkongres pada Februari 2005, Rofiq membantah. "Tidak ada sama sekali. Kita telah bersepakat bahwa PAN tidak ada hubungan sama sekali dengan Muhammadiyah. Jika diteliti lebih jauh, PAN selama ini tidak memberi manfaat kepada Muhammadiyah, malah membebani," jelasnya.
(asy/)











































