Polri Harus Segera Tuntaskan Kasus Penyerangan Rumah Ibadah di Yogya

Polri Harus Segera Tuntaskan Kasus Penyerangan Rumah Ibadah di Yogya

- detikNews
Senin, 02 Jun 2014 02:06 WIB
Polri Harus Segera Tuntaskan Kasus Penyerangan Rumah Ibadah di Yogya
Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) harus segera menuntaskan kasus penyerangan rumah ibadah di Yogyakarta termasuk perampasan kamera wartawan Kompas TV, Michael Aryawan. Jika kasusnya berlarut-larut akan jadi preseden buruk dan sewaktu-waktu bisa terulang kembali.

"Apa pun dalihnya, penyerangan warga yang sedang melakukan ibadah sama sekali tidak bisa ditolerir. Apalagi Pancasila merupakan ideologi dasar bagi negara Indonesia. Untuk itu Polri harus bertindak tegas agar kasus yang sama tidak terulang kembali di kemudian hari," ujar pengamat kepolisian Aqua Dwipayana saat dimintai tanggapan terkait dengan kasus itu, Senin (2/6/2014).

Seperti diberitakan, Kamis malam (29/5/2014) lalu, sekelompok orang menyerang rumah Direktur Galang Press, Julius Felicianus di Perumahan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Yayasan Keluarga Pahlawan Negara Nomor B7, Dusun Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman. Saat penyerangan, rumah tersebut sedang dipakai belasan umat Katolik untuk doa bersama dan latihan paduan suara. Para penyerang merusak rumah dan melukai sejumlah orang termasuk wartawan Kompas TV, Michael Aryawan, yang sedang meliput kejadian itu. Kameranya dirampas oleh penyerang.

Aqua yang pernah mengajar komunikasi di Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri ini mengapresiasi langkah cepat Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah menangkap satu orang yang diduga sebagai pelaku penyerangan. Juga atensi sangat serius yang langsung ditunjukkan Kabareskrim Komjen Pol Suhardi Alius. Hal itu membuktikan keseriusan Polri untuk segera menuntaskan kasus tersebut.

Dari orang yang ditangkap, lanjut Aqua, hendaknya Polri dapat segera mengungkap seluruh pelaku dan orang yang memerintahkan penyerangan itu. Kemudian memberikan hukuman yang setimpal.

"Polri harus benar-benar serius menangani kasus ini. Apalagi tempat kejadian perkaranya di Yogyakarta yang merupakan miniatur Indonesia. Selain itu ada wartawan yang dirampas kameranya. Hal tersebut secara cepat menimbulkan solidaritas yang tinggi di kalangan wartawan se-Indonesia," jelas Aqua yang mantan wartawan harian Jawa Pos dan harian Bisnis Indonesia ini.

Bukti dari solidaritas sesama wartawan itu, tambah Aqua, adalah maraknya demo para wartawan terhadap kasus tersebut. Di berbagai daerah di Indonesia para wartawan melakukan unjuk rasa yang tujuannya minta Polri segera menuntaskan segera kasus tersebut. Bagi Polri penuntasan kasus ini merupakan tantangan tersendiri.

Jika bisa segera mengungkap pelaku dan dalangnya akan mendapat apresiasi dari banyak pihak termasuk kalangan media. Namun kalau yang terjadi sebaliknya, cepat atau lambat akan menurunankan citra Polri sebagai dampak dari tidak terungkapnya masalah ini termasuk perampasan kamera milik wartawan Kompas TV.

"Sebaiknya setiap ada perkembangan terbaru yang terkait dengan kasus itu, Polri mengumumkannya ke masyarakat lewat media. Dengan begitu bisa menilai bahwa Polri serius menangani dan menuntaskan kasus tersebut. Sehingga kinerja Polri mendapat apresiasi dari banyak pihak," jelas kandidat doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini.


(rmd/rna)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads