Perusakan terjadi seusai kebaktian yang dilakukan pagi hari. Massa dari luar wilayah kecamatan Sleman datang menggunakan sepeda motor. Mereka memprotes rumah milik pendeta NL yang digunakan tempat kebaktian itu tidak berizin.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun di lapangan, gereja yang berada di halaman pendeta itu sudah diprotes warga sejak tahun 2012. Bahkan pada tahun lalu pemerintah kabupaten Sleman telah menyegelnya. Namun kemudian digunakan kebaktian lagi. Beberapa orang yang tergabung dalam ormas Islam menyatakan protes.
"Ini sudah diprotes lama tapi digunakan lagi sejak awal tahun lalu," kata salah satu saksi mata Dullah.
Setelah jemaat pergi meninggalkan lokasi, gereja kemudian dijaga aparat kepolisian resor Sleman bersama Kodim Sleman. Namun kemudian puluhan massa yang sebagian besar mengenakan penutup wajah seperti kain kafiyeh itu datang lagi sekitar pukul 13.30 WIB. Mereka langsung memasuki halaman gereja dan melakukan perusakan.
Beberapa orang massa ada yang terlihat membawa senjata tajam dan pentungan. Namun tidak ada tindakan dari aparat keamanan. Saat aparat keamanan mau masuk halaman justru dihalang-halangi oleh massa yang berjaga-jaga. Beberapa orang massa sempat melakukan perusakan dengan memecah kaca jendela dan pintu dengan palu dan batu.
Rumah pendeta NL yang berada di samping gereja yang telah kosong ditinggal pemiliknya itu rusak. Saat kejadian bupati Sleman, Sri Purnomo juga tiba di lokasi namun tidak mampu menghentikannya.
(bgs/gah)











































