"Saya sudah berkenalan dengan beliau 6 tahun lalu. Dia bangga UI memberikan dukungan pada dia. Beliau orgnya sederhana. Keinginan berbuat baik dan memang dari kampung. Kelemahannya dr ndeso," kata Luhut mengawali sambutannya di Balai Saworno, Jalan Kemang Selatan, Jakarta Selatan, Minggu (1/6/2014).
Ia menilai kesederhanaan Jokowi dapat terlihat dari cara berpakaian dan kegiatan blusukannya.
"Kemarin kami ke pasar Gembrong, saya amit-amit begitu tapi dia menikmati. Saya tidak. Segmennya mungkin sudah begitu. Tidak dibuat-buat. Pencitraan tidak sama sekali.
Di depan para alumni UI, ia bercerita tentang kecerdasan Jokowi. Ia menilai Jokowi selalu memikirkan tindakannya yang dapat menjadi senjata bagi lawan politiknya.
"Kemarin kita undang 165 kyai dari Banten shalat bersama. Saya nggak terpikir tapi beliau bisiki saya, pak Luhut kita nggak bisa apa-apa disini. Ini masih jam kerja dan hari terakhir kerja. Nanti kena semprit. Ada lubang yan dia detail kuasai. Dia jujur dlm sikapnya," sambungnya.
Ia juga mengklarifikasi sejumlah tudingan yang dilayangkan pada Jokowi. Mulai dari sebutan capres boneka hingga isu SARA yang belakangan berhembus kencang menyerang Jokowi hingga soal ekonomi dan kepemimpinannya di Jakarta.
"Kemarin saya ketemu pak JK saya bilang konyol juga suruh lomba ngaji paling baik. Kata Fachrul, blm tentu yang disana bisa Alif Ba Ta. Itu kata Pak Fachrul. Kalau Jokowi dia nikmati. Beliau kan sudah naik haji tahun 2003 jadi tidak ada rekayasa, tapi isu agama ini ada beberpaa pesantren yang termakan." Kata Luhut yang sempat membuat yang hadir di ruangan tertawa.
Luhut meminta agar alumni UI ikut serta dalam aksi pemenangan Jokowi JK dengan mengajak komunitas dan orang-orang sekelilingnya.
"Kalau bisa mengajak banyak orang komunitasnya. So, why dont we fight? Kalau kami di tentara kan ada prinsip to kill or to be kill. Kita harus yakin," imbuhnya.
(bil/van)











































