Seperti yang diketahui, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Mahfud MD berada di barisan pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Sementara dikubu Joko Widodo-Jusuf Kalla, berdiri Hasyim Muzadi dan Khofifah Indar Parawansa dari perwakilan NU.
Bagi pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Dwipayana, pilpres kali ini memang membuat NU terbelah. Sejumlah elit NU tidak seragam dalam menentukan pilihannya.
Hasil survei LSI menjadi bukti pilihan elit tidak harus didukung oleh konstituennya. "Pilihan elit dengan santri berbeda," kata Ari saat berbincang, Minggu (1/6/2014).
Kalangan santri memiliki logika sendiri-sendiri dalam menetukan pilihannya. Dan ini tidak terkait sedikit pun dengan pilihan elit.
Berdasarkan hasil riset LSI, jika Pilpres digelar dalam kurun waktu 1-9 Mei 2014, maka Jokowi didukung sebanyak 34,4% suara NU. Sementara Prabowo didukung 31,57% suara Muhammadiyah.
Survei ini dilakukan pada 1-9 Mei 2014 dengan metode multistage random sampling dengan jumlah responden 2.400 orang. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan responden dengan metode kuisioner. Margin of error survei ini sekitar 2%.
(mok/fjp)











































