Aktivis LSM dan Wartawan Demo Kecam Penyerangan Rumah di Sleman

Aktivis LSM dan Wartawan Demo Kecam Penyerangan Rumah di Sleman

- detikNews
Jumat, 30 Mei 2014 18:15 WIB
Aktivis LSM dan Wartawan Demo Kecam Penyerangan Rumah di Sleman
Foto: Bagus Kurniawan/detikcom
Yogyakarta - Puluhan wartawan yang tergabung dalam Solidaritas Wartawan Anti Kekerasan bersama aktivis LSM di Yogyakarta menggelar aksi menolak kekerasan terhadap kaum minoritas dan kekerasan terhadap jurnalis.

Mereka menuntut kepolisian untuk segera mengusut kasus kekerasan yang terjadi di rumah Julius Felicianus dan perampasan kamera milik reporter Michael Aryawan yang terjadi pada hari Kamis (29/5/2014) malam.

Aksi damai tersebut digelar di halaman Gedung DPRD DIY di Jalan Malioboro. Koordinator aksi, Ibnu Taufik, menyatakan aksi kekerasan terhadap pekerja media di wilayah DIY dan Jawa Tengah pada tahun 2014 ini sudah terjadi dua kali.

Pertama adalah yang menimpa wartawan Radar Jogja di wilayah Magelang, Fritqi Suryawan. Rumah dia dilempar molotov pada malam hari. Kedua adalah yang menimpa Michael Aryawan atau Mika pada saat meliput aksi kekerasan di Perumahan STIE YKPN di Dusun Tanjungsari Desa Sukoharjo, Ngaglik Sleman.

Pada kasus kedua, rumah Direktur penerbit Galangpress Julius Felicianus dirusak dengan dilempari batu oleh sekelompok orang tak dikenal saat acara doa sembahyang rosario yang rutin dilakukan umat katolik setempat. Julius mengalami luka-luka akibat dipukuli menggunakan besi. Ada pula warga sekitar yang ikut dianiaya. Demikian pula Mika saat meliput dan menyatakan dirinya wartawan juga tidak luput dari aksi kekerasan.

"Kamera Mika juga dirampas dan sampai saat ini tidak diketahui di mana," ungkap Taufik didampingi Clemon.

Taufik menegaskan pihaknya menuntut Kapolda DIY yakni Brigjen Haka Astana untuk menindak tegas pelaku aksi kekerasan. Demikian pula dengan Gubernur DIY juga harus melindungi warga DIy dari aksi intoleransi ini.

"Kita menuntut Haka Astana selaku Kapolda DIY untuk bertindak tegas, tangkap dan adili pelaku kekerasan terhadap kaum minoritas dan wartawan. Ini tidak boleh terjadi lagi di Yogyakarta," kata Taufik.

Hal senada juga dikatakan oleh Koordinator Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta (Makaryo), Tri Wahyu, dan anggota Jogja Police watch (JPW) Baharuddin Kamba. Menurut Tri wahyu, ada sekitar 20 kasus kekerasan yang terjadi di Yogyakarta namun tidak terungkap jelas oleh kepolisian.

Selain di Sleman kata Tri Wahyu, kasus intoleransi juga terjadi di Gunungkidul oleh sekelompok ormas Islam membunarkan acara umat lain. Beberapa kasus kekerasan seperti penyerangan di kantor LKIs dan Irsyad Mandji, penyerangan di Godean juga tidak terungkap.

"Kalau ini dibiarkan,Yogyakarta yang katanya istimewa dan penuh toleransi itu tidak ada artinya,' katanya.

Dalam catatan Baharuddin selaku anggota JPW, ada banyak kasus kekerasan terhadap kelompok minoritas yang belum terselesaikan. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi polisi untuk mengusut tuntas hingga selesai semua kasus.

(bgs/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads