"Penting sosialisasi pemilu harus bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. Yang lalu (Pileg 2014) kami menemukan sosialisasi lebih banyak terhadap hari pencoblosan bukan ke rekam jejaknya. Ke depannya KPU bisa memaksimalkan sosialisasi pemilu yang nggak harus fokus ke hari pemilu tapi juga bisa intensif terhadap visi misi kandidat. Dua pasang itu sudah menyampaikan visi misi ke KPU dan sudah dipampang ke laman KPU tapi tidak semua orang bisa mengaksesnya," ujar Sri Budi, Jumat (30/5/2014).
Hal ini diungkapkannya dalam diskusi dengan tema 'Catatan Kritis Penyelenggaraan Pemilu Menuju Pilpres 2014' di Media Center KPU, Jl Imam Bonjol No 29, Jakarta Pusat.
"Jadi perlu media lain untuk memaparkannya misal di media massa, radio dan sebagainya agar bisa terjangkau oleh masyarakat lebih luas," lanjutnya.
Hal senada juga diamini oleh Direktur Eksekutif Parludem, Titi Anggraini. Ia mengatakan, KPU perlu mensosialisasikan visi misi bakal capres Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta secara lebih kreatif lagi.
"KPU itu harus bisa menjangkau lebih luas misal menerbitkannya di koran. Media-media yang digunakan KPU harus yang ramah diakses. Pengguna internet di Indonesia hanya sekira 8 juta orang, sedangkan jumlah pemilih kita kan lebih dari itu. Medsos KPU juga blm maksimal. Jd KPU harus kreatif dalam memaparkan visi misi para calon agar jelas," tutupnya.
Turut hadir dalam acara ini yaitu Koordinator Nasional JPPR M Afifuddin dan Direktur Indonesia Parliamentary Center (IPC) Sulastio.
(mpr/mpr)











































