Bush: Tentara Irak Belum Siap Menjaga Keamanan Pemilu
Selasa, 21 Des 2004 05:19 WIB
Jakarta -
Presiden AS George W. Bush mengatakan tentara Irak masih belum siap untuk menjaga ketertiban menjelang pemilihan umum di Irak. Bush memprediksi bahwa pemilu yang seyogyanya akan dilakukan bulan depan tidak akan terbebas dari kekacauan. "Sungguh tak bisa diterima bahwa sejumlah satuan pemerintah Irak membelot ke pihak militan ketika terjadi pertempuran," kata Presiden Bush di depan para wartawan di Gedung Putih, Senin (20/12/2004) seperti yang dikutip dari BBC.Untuk itu, Amerika Serikat akan memperbesar jumlah tentaranya di Irak sebesar 12,000. Sehingga sebelum pemilu tanggal 30 Januari, total tentara yang akan berjaga-jaga di Irak akan mencapai 150 ribu. Jumlah ini lebih besar dari jumlah ketika Irak diserbu pada bulan Maret 2003. Bush memastikan bahwa Irak tengah menuju tahap demokrasi. Dalam jumpa pers akhir tahun di Gedung Putih, Bush mengatakan pemilu di Irak merupakan awal dari satu proses.Puluhan ditangkap setelah 2 bom IrakSekitar 13 orang tewas dalam ledakan bom di Karbala, Irak. Pasukan keamanan Irak mengumumkan telah menangkap sedikitnya 50 orang, menyusul ledakan bom mobil di kota warga Syiah, Najaf dan Karbala. Militan Sunni dituduh melakukan pemboman hari Minggu, yang menewaskan lebih dari 60 orang.Para pemuka Syiah mengatakan, serangan itu merupakan usaha untuk memicu tindak kekerasan sektaria antara warga Syiah, dan Sunni. Mereka mendesak pengikut mereka agar tidak membalas, dan menambahkan, warga Syiah terikat untuk mengikuti pemilihan damai 30 Januari.Gubernur Provinsi Adnan al-Zurfi mengatakan, ledakan itu dimaksudkan untuk menghalangi pemilihan bulan depan. Zurfi mengatakan, hampir semua tersangka yang ditahan berkaitan dengan pemboman Najaf dan Karbala adalah warga Irak. Namun, satu orang di antaranya memiliki paspor negara asing.Jurubicara komisi pemilihan, Farid Ayar mengatakan, tindak kekerasan dan serangan hari Minggu terhadap petugas pemilihan tidak akan menghentikan rencana pemilihan. Namun, dia mengatakan, langkah pengamanan akan ditingkatkan untuk memberikan perlindungan lebih baik kepada para petugas pemilihan."Saya rasa kebanyakan warga Irak...ingin mendatangi tempat pemberian suara, memilih calon yang mereka suka. Ini mendorong mereka untuk melanjutkan proses hingga berakhir," tandasnya.Dari sel penjara, mantan Presiden Irak Saddam Hussein mendesak warga Irak agar memboikot pemilihan, dan melawan rencana Amerika untuk memecahbelah negara dengan dalih sektarian.
(dni/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































