Direktur IndoStrategi Andar Nubowo mengatakan dari sejarah politik sulit dilihat SBY akan merapat ke Jokowi-Jusuf Kalla.
"Historical politik secara chemistry SBY sulit ke Jokowi JK. Pertama, hubungannya SBY dengan Megawati belum cair. Kayak sebelum penetapan capres, SBY sudah buka diri, tapi Mega malas-malasan," ujar Andar ditemui seusai diskusi "Kebangkitan Indonesia Dalam Perspektif Pemimpin" di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (28/5).
Selain itu, dia mengatakan latar belakang JK yang pernah menjadi wakil presiden SBY menjadi sulit keduanya untuk berkoalisi. Menurutnya, selama lima tahun menjadi wakil presiden, JK terlalu melampaui kewenangan SBY sebagai atasannya. Anggapan ada dua "matahari kembar" saat itu pun dianggapnya memang benar terjadi.
"Dalam lima tahun itu yang ada rivalitas dan kompetisi antar keduanya. Jadinya di periode berikutnya SBY gandeng Boediono. Padahal kalau dilihat JK masih ingin jadi wapresnya," kata dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah itu.
Kalaupun saat ini ada upaya dari juru bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani agar SBY serta Megawati berkomunikasi tetap bakal sulit diwujudkan.
Persoalan utama karena koalisi yang dilihat sejauh ini masih menerapkan koalisi transaksional untuk kepentingan. "Di politik itu tidak ada kawan abadi selama ada kepentingan harus dilihat. Ya memang semua kemungkinan masih ada. Tapi, sulit lah itu," ujarnya.
Namun, kalau untuk Prabowo-Hatta, Andar melihat SBY sudah menjalin komunikasi lebih intensif sejak lama bahkan sebelum Pemilu Legislatif. Hal ini ketika pertemuan SBY dengan Prabowo di Istana Negara, setahun lalu. Ditambah pula pertemuan SBY dengan Prabowo yang menemani Hatta untuk berpamitan sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, belum lama ini.
Faktor lainnya adalah sosok Hatta yang menjadi besan serta loyalis SBY selama dua periode di pemerintahan menjadi poin penting. "Faktor-faktor itu lah yang secara logika saya lihat SBY bakal condong ke Prabowo-Hatta," tegasnya.
(hat/brn)











































