"Meminjam bahasa Buya Ahmad Syafii Maarif, buat saya Prabowo-Hatta itu memakai politik gincu sedangkan Jokowi-JK menggunakan politik garam," ujarnya pada Dialog Kenegaraan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (28/5/2014).
Maksud politik gincu yaitu kelihatan tapi tidak terasa, berkebalikan dengan politik garam Jokowi-JK yang terasa tapi tak terlihat.
Menurut Najib, perbedaan itu bisa dilihat dari visi misi mereka di bidang agama, Jokowi-JK memberi toleransi untuk beberapa agama, sedangkan Prabowo-Hatta hanya menyebut satu bidang agama yaitu mendirikan lembaga tabungan haji.
Visi dan misi ini sudah diserahkan ke KPU oleh masing masing pasangan capres dan cawapres. "Jika membandingkan visi misi 9 halaman Prabowo-Hatta dengan visi misi 41 halaman Jokowi-JK, kita bisa melihat kesiapan kedua pasangan untuk menjadi capres dan cawapres tersebut, walaupun ini tak sepenuhnya merefleksikan keduanya, tapi itulah yang terbersit di benak mereka dan tim suksenya saat menuliskan visi dan misi," tutup Najib
(trq/trq)











































