"Saya ingin menyampaikan keprihatinan saya akan kondisi politik di Indonesia sekarang ini. Sangat tidak mendidik karena tiap hari disuguhi tontonan black campaign. Mana pendidikan politik untuk bangsa kita?" tutur Ketua BEM FISIP UI Bara Lintar saat memberikan orasinya di pelataran Stasiun UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (28/5/2014).
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua BEM FASILKOM UI Abdul Izzuddin. Menurutnya, media sosial dewasa ini kerap digunakan untuk menjelekkan pasangan capres dan cawapres.
"Sebagai mahasiswa ilmu komputer yang terus mengamati dunia politik lewat perkembangan sosial media saya sangat sedih. Karena semua aib diungkapkan yang jelek-jeleknya. Mungkin Indonesia nggak butuh presiden karena presidennya kayak gini. Kita sebagai mahasiswa terdidik harus mampu membersihkan dari ini," ujar Abdul.
Sementara itu menurut Ketua BEM UI Muhammad Ivan Riansa, apabila di antara dua pasangan capres cawapres itu ada yang kurang disukai sebaiknya tokoh politik dapat memberikan penjelasan yang logis. Bukan dengan saling menyerang atau menjelekkan satu sama lain.
"Sejauh ini tanggapan kami terhadap 2 pasangan itu, kami sangat berharap kedua capres cawapres tersebut dapat menegakkan pendidikan politik. Dengan adanya dua calon saja itu akan ada dua kutub. Ketika tidak suka harus dapat menjelaskannya dengan cerdas," ujar Ivan.
Oleh karenanya, BEM UI mengatakan pihaknya ingin mengundang kedua pasang capres cawapres, yakni Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta untuk bertandang ke UI berdialog bersama.
"Kami mengundang secara terbuka capres dan cawapres untuk datang ke UI, kampus perjuangan berdialog dengan mahasiswa UI. Kami bukan mengundang untuk debat atau argumentasi, tapi dialog secara akademis," tutup Ivan yang mengenakan jaket kuning.
(gah/gah)











































