Pengamat psikologi politik dari Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk mengingatkan dampak buruk kampanye hitam sangat luas. "Sebenarnya akan merugikan pihak yang menyerang," ujar Hamdi ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (28/5/2014).
Hamdi mengamati masyarakat kelas menengah ke atas sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah dari isi pesan kampanye. "Mereka lebih bisa menyaring, lebih rasional, bisa membedakan fitnah atau bukan, sehingga mereka bisa menilai si pelakunya adalah orang yang tidak benar," kata Hamdi.
Dengan demikian, Hamdi menegaskan, kampanye hitam justru bisa merugikan diri sendiri, termasuk yang dilakukan melalui media-media sosial atau pesan berantai.
Namun, Hamdi mengakui kampanye hitam memang bisa mempengaruhi orang sesuai tujuan dari si pelakunya. Tapi hal itu hanya bisa terjadi pada lapisan masyarakat menengah ke bawah. "Masih efektif kalau dimainkan, apalagi kalau menyangkut isu agama, lapisan masyarakat bawah bisa terpengaruh," tutur Hamdi.
Lebih lanjut Hamdi menekankan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dan terpancing dengan isu-isu dari kampanye hitam. Apalagi semakin mendekati masa kampanye Pilpres yang akan dimulai sebentar lagi yaitu pada 2 Juni depan. "Harus dihentikan sekarang," Hamdi menegaskan.
Hamdi menambahkan, model kampanye hitam sudah terjadi sejak Pilgub DKI lalu. Kampanye hitam kemudian muncul lagi pada saat Joko Widodo (Jokowi) akan maju sebagai capres terkait tingginya elektabilitas Jokowi di lembaga-lembaga survei.
Menurut Hamdi awalnya sebenarnya kubu dari pihak Prabowo yang melakukan, namun kemudian kubu Jokowi pun melakukan hal-hal yang serupa. "Ini sangat tidak baik."
(brn/rmd)











































