"Ingat, rakyat tidak boleh terlena. Karena pengalaman Pileg lalu banyak kecurangan dan bobroknya penyelenggara pemilu. Jangan sampai rakyat memilih Jokowi, tapi pada pelaksanaannya, ada kecurangan yang bisa saja dilakukan oknum-oknum yang tidak ingin bangsa ini dipimpin capres yang jujur, tulus dan revolusioner," kata Nico dalam siaran pers, Senin (26/5/2014).
Nico mewarning KPU agar berlaku profesional dalam penyelenggaraan Pilpres. Selain itu, dia juga mengajak seluruh elemen pendukung Jokowi untuk waspada dalam proses pencoblosan hingga penghitungan suara nanti.
Nico menegaskan bahwa proses Pileg 9 April 2014 lalu banyak terjadi kecurangan yang dilakukan oknum penyelenggara pemilu, panwas serta oknum caleg. Dan, di pilpres ini potensi lebih besar, karena peserta Pilpres hanya diikuti 2 pasang capres cawapres.
"Jika timses, relawan dan rakyat tidak peduli serta tidak melakukan pemantauan secara baik, maka kecurangan politik uang masih akan mewarnai Pilpres," ujarnya.
Nico juga membeberkan potensi kecurangan melalui formulir C1 dan A5. Pada pileg lalu, banyak formulir C1 yang tak berhologram. Sedangkan penggunaan A5 banyak yang ganda.
"Harusnya, saat akan mengambil A5, maka pemilih harus melaporkan ke kelurahan asalnya, agar ditutup dan dipindahkan ke kelurahan atau kota lain," tegasnya lagi seraya mewanti-wanti KPU agar tidak lalai menjalankan tugas.
Nico menginstruksikan kepada seluruh relawan Jo-Man di 25 provinsi dan 75 Kota/Kab dari Sabang sampai merauke untuk memantau dan mewaspadai kecurangan pemilu di tingkat PPS, PPK dan KPU setempat.
(r@s/trq)











































