Kisah Ursula bermula pada tiga tahun lalu saat kesedihan menyelimuti dirinya. Rasa sedih itu mengantarkannya pada sebuah tempat di kota Denpasar, Bali. Di sana dia merasa menemukan energi baru dan merasa terpanggil hatinya untuk membantu sesama. Dengan rasa cinta yang begitu besar akhirnya dia memutuskan untuk mendirikan yayasan Nexuba, yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan.
“Sudah sejak 15 tahun yang lalu, saya sering mengunjungi Bali dan tiga tahun yang lalu saya merasa terpanggil untuk membantu masyarakat Bali, terutama anak-anak yang membutuhkan pendidikan dan sistem kesehatan yang memadai," kata Ursula dalam acara peresmian yayasan Nexuba di Magden, Swiss seperti rilis KBRI Bern yang diterima detikcom, Senin (26/5/2014).
Ketertarikan Ursula pada kebudayaan Bali yang beragam seperti aliran kepercayaannya, mentalitas dan kehidupan sosial masyarakatnya membuat dia memutuskan untuk mendirikan proyek sosial kemanuasiaannya di sana. Selain itu Ursula juga terpikat pada kesederhanaan masyarakat Bali yang kental akan semangat keagamaan, walaupun dengan kemampuan finansial yang terbatas, mereka menyisihkan sebagian dari hartanya untuk sesajen para Dewa.
Melalui yayasan Nexuba, Ursula ingin meningkatkan kesehatan dan pendidikan masyarakat Bali. Misalnya dengan mengadakan pelatihan di bidang Hotel dan Gastronomi. Melalui proyek ini, yayasan Nexuba memberikan pelatihan di bidang perhotelan dan gastronomi secara cuma-cuma kepada pemuda Bali yang berasal dari keluarga kurang mampu. Pelatihan “on the job training” ini dilakukan di hotel bintang 4 atau 5, selama satu tahun. Selain mendapatkan ilmu perhotelan, mereka juga diajarkan bahasa asing.
Proyek kedua bergerak di bidang pelatihan kerajinan tangan, serta pelatihan keperawatan. Meskipun proyeknya masih terhitung berada dalam skala kecil, Ursula bertekad untuk menjadikan proyeknya sebuah proyek besar. Tidak menutup kemungkinan proyeknya dibuka di propinsi lain.
Pada peresmian yayasan Nexuba, Ursula menyampaikan niatnya untuk meninggalkan tanah kelahirannya, untuk lebih fokus mengurus yayasannya di Bali. Pernyataan Ursula disambut dengan tangis oleh para keluarga dan kerabat Ursula yang datang pada acara persemian, yang juga diliput oleh stasiun televisi lokal, Telebasel.
Pada peresmian yayasan Nexuba, Urusula juga mengundang KBRI Bern, Swiss dan para donatur. Selain menyuguhkan hidangan khas Indonesia, seperti sate ayam, pastel, lumpia, pada acara tersebut juga ditampilkan tari Jaipong yang dibawakan oleh Gumala, dan tari Cendrawasih dari Bali yang dibawakan oleh Sari Mühlestein.
KBRI Bern, Swiss, menyampaikan penghargaan atas perhatian yang besar dari niat tulus dan kerja keras Ursula terhadap masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di Bali. Selain itu, KBRI juga mengajak warga Swiss untuk merasakan kebudayaan Bali, keramahan masyarakatnya, kelezatan makanannya dan keindahan alamnya, yang membuat Ursula memutuskan untuk memulai hidup barunya di Bali.
(slm/nrl)











































