Seperti disampaikan pejabat KBRI Wellington, PLE Priatna yang dikonfirmasi detikcom, Senin (26/5/2014), kunjungan dilakukan sejak 19-25 Mei.
Anggota Kompolnas yang datang antara lain, Logan Siagian (polisi bintang dua mantan Kapolda Jogjakarta), Syafriadi Cut Ali (pensiunan jenderal polisi bintang satu), Prof Dr Adrianus Meliala (kriminolog dari UI), Dr Hamidah Abdurrachman SH MH, Dr Nasser Kelly (ahli hukum kedokteran), dan Edi Saputra Hasibuan (mantan redaktur senior harian Pos Kota).
"Di Selandia Baru ini, integritas dan netralitas polisi sebagai aparat negara sangat tinggi. Pendekatan ramah, tindak pencegahan berikut deteksi dini dan tindakan pro-korban kejahatan serta patroli jalan raya, telah menumbuhkan rasa aman sekaligus menurunnya tingkat kejahatan dan pelanggaran hukum," demikian kesan Prof Adrianus Meliala seperti disampaikan Priatna.
Adrianus juga melihat bahwa di Selandia Baru, citra polisi amat baik ditambah sejalannya visi dan misi pimpinan dengan aparat pelaksana di jalanan. Termasuk juga operasionalisasi kegiatan melalui alokasi anggarannya.
Anggota kepolisian Selandia Baru sebanyak 8.900 orang dan ditambah sekitar 2.000 tenaga sipil, yang dibagi dalam 12 wilayah kerja untuk melayani sekitar 4,6 juta penduduk Selandia Baru.
Pihak Selandia Baru juga menyampaikan bahwa hubungan antara badan pengawas David Carruthers dengan pihak markas besar kepolisian nasional di bawah komisioner Mike Bush, maupun kementerian kepolisian di bawah Menteri Polisi Anne Tolley berlangsung dekat.
Namun badan pengawas saat menilai dan memberikan rekomendasi bagi aparat kedua lembaga itu tetap bisa independen. Kepolisian di Selandia Baru memang berada di bawah kementerian.
Badan pengawas independen kepolisian Selandia Baru ini sekurangnya menerima 2.000 pengaduan setiap tahunnya. Sekitar lebih dari 80 persen dari kasus penting yang menyangkut aparat kepolisian ditindaklanjuti kepolisian Selandia Baru.
Bila pihak kepolisian, (kementerian maupun operasional markas besar kepolisian) tidak menindaklanjutinya, badan pengawas dapat meneruskan laporannya pada pemerintah melalui parlemen.
"Hal itu belum pernah dilakukan badan pengawas Selandia Baru, karena rekomendasinya selalu ditindaklanjuti pihak kepolisian," ungkap Sekjen badan pengawas independen Dr Warren Young menambahkan.
Sinergi kuat berikut pembagian kerja kementerian kepolisian di bawah Menteri Anne Tolley dan markas besar kepolisian di bawah komisioner Mike Bush menyangkut operasionalisasi tugas polisi di lapangan, telah memudahkan kedua belah pihak untuk bersama-sama membangun citra lembaga dan aparat kepolisian yang bersih, netral, berintegritas serta memberikan rasa aman bagi masyarakat.
"Citra kepolisian dan aparat kepolisian tidak hanya citra bagi sebuah negara. Lebih dari itu, yang lebih penting adalah citra tentang rasa aman di masyarakat," ungkap David sambil mengakhiri pertemuan.
Kompolnas melakukan serangkaian sosialisasi dan pertemuan dengan markas besar kepolisian Selandia Baru, pusat pendidikan kepolisian, badan pengawas independen kepolisian, juga berkunjung ke lembaga pemasyarakatan (Lapas) penjara wanita di Tawa, pertemuan dengan komisi negara badan pertimbangan jabatan tinggi, Universitas Victoria-School of Government, hingga temu wicara dengan masyarakat, mahasiswa dan dosen Indonesia di Wellington.
"Program sosialisasi Kompolnas ini mendapat sambutan dari mitra kerja di Selandia Baru. Dalam kunjungan ke School of Government Universitas Victoria, pihak Universitas Victoria menawarkan program pelatihan dan pengembangan sumber daya bagi kepolisian RI," tutup Priatna memberi penjelasan.
(nal/ndr)










































