Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qadari menilai, kesebelas bekas peserta konvensi Partai Demokrat mempunyai elektabilitas yang rendah dibanding dua capres saat ini. Karena menurutnya, dari sisi elektabilitas sebenarnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap peningkatan suara baik Jokowi maupun Prabowo.
Namun menurut Qadari, ada tiga faktor sehingga kedua kubu baik Jokowi maupun Prabowo tetap tertarik untuk memperebutkan mereka.
"Terlepas dari pendukungnya atau pemilihnya di akar rumput, mereka inikan tokoh. Kalau bukan tokoh, enggak mungkin mereka jadi capres konvensi," ujar Qadari saat berbincang dengan detikcom, Senin (26/5/2014).
Faktor pertama kata Qadari, bagaimanapun para peserta konvensi capres Demokrat tetap menarik bagi media massa, memiliki nilai jual, dan sangat bagus untuk sosialisasi calon yang didukung.
"Kedua, mereka bermanfaat untuk perang wacana, baik di masyarakat maupun di media. Karena pertarungan pilpres ini kan bukan hanya perang di lapangan, tapi juga perang wacana," tuturnya.
Dia mencontohkan, Anies Baswedan yang dijadikan oleh kubu Jokowi-JK sebagai juru bicara. Menurutnya, figur Anies sangat kuat untuk wacana dan retorika, sehingga tepat dijadikan jubir dan punggawa untuk perang wacana.
Faktor terakhir, lanjut Qadari, ada jaringan (networking) yang dimiliki para mantan peserta konvensi. "Selama menjadi peserta konvensi, mereka pasti punya timses, setidaknya di seluruh Indonesia," tuturnya.
Di antara para eks peserta konvensi, menurut Qadari, Dahlan Iskan adalah tokoh yang paling kuat baik secara elektabilitas dan jaringan. Meski secara retorika berbeda dengan Anies, Dahlan memiliki jaringan media yang cukup baik.
"Semua peserta konvensi memang punya kelebihan masing-masing, jadi tidak bisa dipukul rata. Jadi saya kira inilah yang dipertimbangkan mereka diperebutkan," pungkasnya.
Dari sebelas eks peserta konvensi Partai Demokrat, beberapa di antaranya telah menyatakan bergabung, baik ke kubu Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta. Tokoh muda yang juga rektor Paramadina Anies Baswedan menyatakan bergabung dengan Jokowi-JK. Anies bahkan menjadi jubir bagi duet yang diusung PDIP, NasDem, PKB, Hanura, dan PKPI ini.
Menteri BUMN Dahlan Iskan juga dikabarkan merapat ke kubu Jokowi-JK, namun hal ini belum terkonfirmasi langsung kepada Dahlan. Wasekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut Dahlan telah bergabung.
"Iya Pak Dahlan sudah setuju bergabung, akhir bulan ini deklarasinya," kata Hasto saat berbincang dengan detikcom, Senin (26/5/2014).
Sementara tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Ali Masykur Musa menyatakan bergabung dengan Prabowo-Hatta. "Tentu saya akan melihat mayoritas warga NU itu menjatuhkan pilihannya kepada siapa. Di situlah saya akan menentukan
pilihan," ujar Ali saat berbincang dengan detikcom kemarin.
Sedangkan mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal lebih memilih bersikap netral. Dino tak akan memihak salah satu capres, baik Jokowi maupun Prabowo Subianto.
"Saya belum terpikirkan untuk terjun ke dunia politik praktis lagi. Saya ingin fokus pada keluarga," ujar Dino dalam siaran pers yang diterima detikcom kemarin.
(rmd/trq)











































