"Saat itu saya sedang di sekolah anak perempuan saya. Lalu angin besar itu datang, kami lalu berlindung di sekolah," ujar wanita bertubuh kurus ini.
"Angin yang sangat menggulung apapun yang dilewati. Suasana gelap dan kami sangat ketakutan," imbuhnya.
Kami mengobrol santai dalam bahasa Inggris di depan rumahnya yang terbuat dari kayu di kawasan Anibong, Tacloban, Filipina, Jumat (23/5/2014). Thylma bercerita, setelah badai berlalu, dia dan putri kecilnya pulang dan menemukan rumahnya telah porak poranda.
"Semuanya hilang, terbawa air ke laut," kata Thylma sambil menunjuk laut.
Tak hanya itu, 3 buah kapal berukuran besar terbawa air laut hingga ke depan lokasi di mana dulu rumahnya berdiri atau di sekitar 15 meter dari bibir pantai. Kapal itu juga menerjang sejumlah rumah penduduk.
Sejak saat itu, dia dan dua orang anaknya harus tinggal di tenda bersama pengungsi lainnya. Hingga akhirnya dia bisa membangun kembali rumahnya yang berukuran sekitar 3x4 meter ini.
"Kami bangun bertahap, dan sekarang sudah bisa kami tempati," katanya dengan nada syukur.
(sip/rmd)










































