Materi pertama disampaikan oleh tokoh senior Muhammadiyah Abdul Malik Fadjar yang memaparkan mengenai masalah sosial. Dia menyoroti soal keberagaman dan pluralitas yang seringkali dianggap tabu oleh masyarakat.
"Sekarang yang mesti kita cari solusinya adalah persoalan bangsa yang majemuk ini. Oleh karena itu satu hal yang penting adalah menjadikan kemajemukan sebagai fakta sosial dan fenomena sosial yang semakin menunjukan realitas," ujar Malik di Hotel Mesra Samarinda, Jl Pahlawan No 1, Kalimantan Timur, Sabtu (24/5/2014).
Dia kemudian mengajak warga Muhammadiyah untuk mendiskusikan agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan. Sementara itu Ketua PP Muhammadiyah Dahlan Rais lebih menekankan pada kaderisasi.
Menurut dia, perlu adanya kaderisasi sehingga ideologi Muhammadiyah dapat disampaikan dalam berbagai aspek kehidupan. Meskipun Muhammadiyah lebih banyak bergerak di sektor kesehatan dan pendidikan, tetapi sektor lain seperti politik juga harus menjadi perhitungan.
"Banyak kader kita yang di parpol itu dibilang 'telmi' atau telat mikir. Bagaimana tidak? Mereka biasa mengurusi pendidikan dan kesehatan sekarang disuruh politik. Mana bisa?" kata Dahlan.
Acara diskusi berlangsung khidmat tanpa ada sesi tanya jawab. Di akhir sesi kemudian Din menyampaikan pilihan untuk nantinya dibahas pada Muktamar Muhammadiyah 2015 mendatang.
"Jadi pilihan kita antara tetap tidak ada ikatan dengan parpol mana pun, mendukung atau mendekati satu parpol yang mau menjalankan ideologi Muhammadiyah, atau ketiga adalah kita membuat parpol sendiri," ujar Din.
(bpn/rmd)











































