Ratusan penghuni, pedagang, tukang ojek, dan pekerja lokalisasi Dolly mendatangi kantor Kelurahan Putat Jaya, Sawahan, Surabaya, Senin (19/5). Mereka membawa poster yang beberapa di antaranya bertuliskan 'Tolak penutupan lokalisasi harga mati', 'Ojek: Kami punya keluarga, kami butuh makan, ini masalah perut bung', dan 'Saya masih butuh uang untuk sekolah anak-anak saya dan dana masa depan anak cucu saya'.
Massa minta Pemkot tidak sewenang-wenang. Kawasan Dolly bukan hanya milik penghuni atau PSK, tapi juga warga sekitar.
Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Lokalisasi Surabaya (FKMLS) Syafik ketika dikonfirmasi detikcom, Selasa (20/5), mengatakan selama tidak ada jaminan kesejahteraan dan keadilan, maka warga akan menolak. Sebab, banyak warga yang menggantungkan kehidupannya di Dolly.
"Ojok (jangan) sekali-kali ada isu penutupan," cetus Syafik.
Dialog antara penghuni Dolly dan Pemkot telah dilakukan. Wakil Wali Kota Whisnu Sakti Buana yang ditugaskan Risma untuk turun ke lapangan mengaku sangat senang dengan hasil pertemuan. Namun ia tidak menjelaskan secara rinci rekomendasi dari pertemuan tersebut.
"Banyak rekomendasi. Tapi saya masih belum bisa beberkan karena saya harus berikan laporan dulu ke Bu Wali," kata Whisnu kepada detikcom, Kamis (22/5) kemarin.
Disebut-sebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, Dolly hanya tersebar di 3 Rukun Warga (RW) di Kelurahan Putat Jaya. Kawasan ini dihuni 1.000-an PSK. Saat ini, penghuni dan pekerja menanti kabar penuh gejolak.
(try/nrl)











































