Mengapa MA Tak Beberkan Anggaran yang Dipakai untuk Carter Pesawat Jet?

- detikNews
Jumat, 23 Mei 2014 09:06 WIB
Gedung Mahkamah Agung (ari saputra/detikcom)
Jakarta - Mahkamah Agung (MA) hingga hari ini belum membeberkan berapa anggaran yang dipakai untuk mencarter pesawat jet ke Wakatobi. MA malah berdalih hal itu sudah biasa dilakukan di berbagai kementerian atau lembaga negara lainnya.

"Dalam kasus sewa pesawat tersebut, menurut saya disampaikan saja kepada publik. Apa saja dan bagaimana prosesnya hingga dapat mengalokasikan anggaran pimpinan untuk sewa pesawat. Prinsipnya, kalau bersih kenapa harus risih? Dengan keterbukaan informasi anggaran, justru masyarakat akan mengetahui kinerja badan publik," kata Ketua Forum Komunikasi Komisi Informasi Provinsi (Forkip) Se-Indonesia, Juniardi kepada detikcom, Jumat (23/5/2014).

Sikap MA yang terkesan menutup-nutupi ini bertolak belakang saat MA membeberkan isu aktual lainnya yang tercium masyarakat. Terutama soal anggaran dan gaya hidup pejabatnya. Berikut kasus-kasus yang terendus publik terkait hal itu:

1. Mebel Pimpinan MA Rp 11,2 Miliar

MA mengalokasikan Rp 11,4 miliar untuk pengadaan mebel ruang sidang dan ruang pimpinan. Proyek pengadaan senilai Rp 11,4 miliar itu dianggarkan dalam DIPA 2011. Adapun untuk mebel untuk dua ruang rapat, yaitu Ruang Wirjono dan Ruang Murdjono sebesar Rp 1,8 miliar. Dana di atas untuk pengadaan mebel 9 ruang pimpinan MA serta beberapa ruang sidang.

Beberapa hari setelah anggaran ini terungkap, pimpinan MA memberikan pernyataan resmi. Menurut Ketua MA Harifin Tumpa, anggaran ini sangat pantas karena MA telah 20 tahun tidak mengganti mebelnya sehingga banyak yang tidak layak pakai lagi.

2. Pembangunan Gedung Megah MA

Pembangunan gedung baru tersebut terungkap saat MA menggelar Laporan Tahunan 2012 pekan lalu. Dalam sampul tersebut terdapat tiga gambar yaitu foto MA lama di Jalan Lapangan Banteng, foto kedua yaitu gedung MA sekarang dan foto ketiga foto gedung MA yang akan datang dalam bentuk maket.

Dalam maket tersebut gambar gedung MA baru dengan sebuah tower menjulang tinggi di tengah dengan puncak berupa kubah. Sedangkan gedung lama tetap berdiri dengan perubahan struktur di beberapa sisi.

Tidak menunggu hitungan pekan, MA langsung membeberkan anggaran pembangunan. Menurut Kepala Biro Umum MA Ramdani Dudung pemugaran gedung ini menggunakan dana multi years Rp 190,858 miliar. Dengan rincian APBN 2013 sebesar Rp 25.748.921.000, APBN 2014 sebesar Rp 100 miliar dan APBN 2015 sebesar Rp 65.109.079.000.

3. Troli Rp 10 Juta per Unit

Masyarakat mengendus anggaran pembelian troli dengan harga Rp 10 juta per unit. MA akhirnya merevisi harga pengadaan barang dan jasa yang akan dilakukan pada 2013 itu. Jika sebelumnya 1 troli dihargai Rp 10 juta, kini harganya Rp 1,2 juta.

Selain itu MA juga membeli laptop dengan harga Rp 18 juta per unit. Menurut Sekretaris MA Nurhadi, perkiraan harga Rp 18 juta per unit adalah harga yang wajar. Karena komputer jinjing yang akan dibeli MA itu harus memiliki spek yang canggih.

4. iPod Perkawinan Anak Sekretaris MA

Sekretaris MA Nurhadi menggelar perhelatan perkawinan anaknya. Buah tangan bagi undangan adalah iPod Shuffle 2GB. Setelah menjadi perbincangan publik, hakim agung Gayus Lumbuun mengadakan jumpa pers dengan menunjukan bukti pembelian iPod yaitu Rp 450 ribu per unit. Anak Nurhadi membelinya di Amerika Serikat dengan jumlah banyak sehingga mendapat potongan harga besar.

Belakangan KPK menyatakan iPod itu adalah gratifikasi karena harga iPod di Indonesia Rp 699 ribu.

5. Meja Kerja Rp 1 Miliar

Hakim agung Djoko Sarwoko membenarkan jika meja kerja Nurhadi seharga Rp 1 miliar. Namun hal ini buru-buru dibantah oleh Nurhadi. Saat wartawan mengunjungi ruang kerjanya beberapa hari setelah isu itu merebak, meja kerja tersebut berupa meja kerja yang biasa ditemui di pasaran.

Nurhadi juga menrenovasi ruang kerjanya semasa menjadi Kepala Biro Hukum dan Humas menggunakan kocek pribadi. Belakangan diketahui kekayaan Nurhadi sebesar Rp 33 miliar, setelah Nurhadi melaporkan LHKPN ke KPK.

Beda troli, beda pula pesawat jet. Hingga kini MA belum membeberkan uang rakyat yang dipakai untuk kunjungan kerja di Wakatobi itu setelah 20 hari lamanya. MA hanya menyatakan anggaran diambil dari alokasi DIPA dan uang operasional pimpinan MA.

"Aku nggak tahu persis," kata Kepala Biro Hukum dan Humas, Ridwan Mansyur.



(asp/jor)