Pengurus Ditelanjangi dan Diancam Pistol, PNBK akan Gugat Polisi

Pengurus Ditelanjangi dan Diancam Pistol, PNBK akan Gugat Polisi

- detikNews
Senin, 20 Des 2004 13:32 WIB
Palembang - Pengurus DPC PNBK (Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan) Palembang Sigit Sugiono menjadi korban salah tangkap polisi. Dia sempat ditelanjangi dan diancam pistol sebelum dibebaskan. PNBK mengancam akan mengugat Poltabes Medan. Sigit mulai mengalami tindak kekerasan oleh polisi pada Kamis (16/12/2004) dini hari lalu. Saat itu, dirinya ditangkap polisi di sebuah pemakaman Cina di kawasan Kenten, Palembang. Saat itulah dia ditelanjangi dan diancam pistol untuk mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Saat menjadi korban kekerasan polisi, Sigit sudah mengaku kepada polisi bahwa dirinya adalah pengurus PNBK Palembang. Tapi, polisi tidak mau tahu. Dari pemakaman Cina itu, Sigit kemudian dibawa ke Poltabes Palembang, Jakabaring. Lantaran polisi tidak memiliki bukti kuat atas penangkapan itu, Sigit pun dibebaskan.Melalui kuasa hukumnya yang terdiri dari 35 pengacara, Sigit kemudian melakukan protes kepada Poltabes Palembang. Mereka meminta petugas yang menangkap dirinya diberi sanksi sesuai aturan yang ada di kepolisian."Namun, sampai pagi ini, kita belum menerima informasi dari Poltabes Palembang mengenai tindakan atau sanksi yang mereka berikan terhadap 6 polisi itu," kata Febuar Rahman, ketua tim kuasa hukum Sigit Sugiono, kepada detikcom di sekretariat DPD PNBK Sumsel, Jalan Mandiri, Pakjo, Palembang, Senin (20/12/2004).Bila dalam beberapa hari ini, kata Febuar, Poltabes Palembang tidak memberikan sanksi terhadap 6 aparatnya yang melakukan tindak kekerasan itu, mereka akan melakukan gugatan terhadap Poltabes Palembang."Kami akan menggugat Poltabes," tegas Febuar Rahman, yang Senin (20/12/2004) sore nanti bersama timnya akan menanyakan kelanjutan kasus itu di Poltabes Palembang.Entah kebetulan atau bukan, kasus salah tangkap ini merupakan kasus kedua yang dialami pengurus PNBK di Sumsel. Dulu, sebelum Pemilu 2004, seorang pengurusnya juga menjadi sasaran salah tangkap. "Anehnya, semua proses penangkapan itu dilakukan tanpa prosedur, seperti penunjukan surat penangkapan. Mereka itu menciduk, sepertinya kader PNBK itu anjing di jalan," kata Febuar protes. (asy/)


Berita Terkait