Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendi Yusuf merasa risih dengan sikap sejumlah elite NU yang terang-terangan membawa-bawa nama NU di panggung politik pemilu presiden.
"Tidak usah bolak-balik teriak-teriak partai kami bersama NU. Gak usah begitu masyarakat juga sudah tahu kalau dia orang NU," ujar Slamet saat berbincang dengan detikcom, Kamis (22/5/2014).
Ketua Umum GP Ansor dua periode (1985-1995) ini menyesalkan adanya petinggi-petinggi di NU yang kerap menggunakan atribut NU untuk kepentingan politik tertentu. "Jangan gunakan simbol-simbol NU, nama NU, bendera-bendera NU," Slamet menegaskan.
Slamet yang juga menjabat Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Pusat ini mengingatkan agar kantor-kantor NU baik di tingkat pusat maupun ranting-ranting tidak boleh dipakai untuk kampanye politik.
Slamet mempersilakan rekan-rekannya di PBNU untuk memilih capres tertentu sesuai pribadi masing-masing tanpa membawa nama NU. "Silakan sesuai preferensi masing-masing. Ke Jokowi-JK atau ke Prabowo-Hatta," tutur mantan anggota MPR ini.
Dia menyebutkan sejumlah petinggi NU yang sudah terang-terangan mendukung kubu Jokowi-JK antara lain Khofifah dan Hasyim Muzadi. Adapun yang ke kubu Prabowo di antaranya yaitu Said Aqil Siradj, Yenni Wahid, Suryadharma Ali, Mahfud Md, dan Idrus Marham.
(brn/rmd)










































