Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Pelukis Amri Yahya

Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Pelukis Amri Yahya

- detikNews
Senin, 20 Des 2004 13:07 WIB
Yogyakarta - Senin (20/12/2004) pukul 11.30 WIB, ribuan pelayat melepas kepergian pelukis batik kontemporer Indonesia Prof Dr (HC) H Amri Yahya (65) ke peristirahatan terakhir di makam Gampingan, Kecamatan Wirobrajan Yogyakarta. Sejumlah tokoh juga tampak ikut melayat di rumah duka di Jl. Gampingan no 6, Yogyakarta. Antara lain, Rektor ISI Prof Dr I Made Bandem, mantan rektor UGM yang juga ketua Dewan Pers Prof Dr Ichlasul Amal MA, adik Sri Sultan Hamengku Buwono X GBPH Prabukusumo, pelukis Djoko Pekik, Butet Kertaredjasa dan beberapa teman seniman lainnya. Sejumlah karangan bunga juga dikirimkan sebagai tanda duka. Antara lain, dari keluarga besar Sumatera Selatan di Yogyakarta, Gubernur Sumsel, keluarga besar UGM, ISI, UNY, Badan Wakaf UII, Ikatan Alumni ISI (IKAISI), Dewan Kesenian Yogyakarta, dan sebagainya. Sebelum dibawa menuju makam, artis Tantowi Yahya membacakan riwayat hidup Amri Yahya sejak pertama kali di Yogyakarta pada 1959, hingga akhir hayatnya. Menurut Tantowi, sebelum meninggal, almarhum juga mencita-citakan adanya national art gallery dan gedung kesenian di seluruh provinsi di Indonesia. "Sudah saatnya ada national art gallery dan gedung seni di seluruh Indonesia," kata Tantowi menirukan ucapan almarhum.Putra kedua almarhum mewakili keluarga, Adwi Prasetya Yogananta (40) di depan para pelayat menyatakan, secara jujur keluarga besar Amri Yahya merasa belum siap ditinggalkan almarhum. "Secara jujur kami belum siap ditinggalkan. Selamat jalan bapak dan kakek kami tercinta," katanya.Adwi mengatakan, anak-anak almarhum bertekad akan meneruskan semua yang dicita-citakan almarhum, yakni didirikan museum seni di rumah di Gampingan, menerbitkan buku dan mendirikan pesantren seni di Palembang. "Kami bertekad akan menruskan cita-cita bapak," katanya.Sementara itu penyair H Taufik Ismail mewakili seniman dalam sambutannya menyatakan, almarhum adalah seorang seniman yang peduli terhadap lingkungan, seorang pekerja keras yang tak kenal lelah. "Dia itu seorang yang haus ilmu, selalu membaca dan selalu membagikan ilmunya kepada orang lain. Sehingga ide-idenya memancar kesana-kemari seakan tak tertampung lagi dalam wadah," katanya.Menurut putri sulung alamrahum Emi Palupi Yogananti seusai pemakaman, pelukis batik komtemporer dan kaligrafi itu meninggal hari Minggu (19/12/2004) pukul 11.30 WIB di RSU Dr Sardjito karena menderita penyakit diabetes militus dan jantung. Sejak galeri yang juga menjadi tempat tinggalnya terbakar 14 September 2004 lalu, kesehatan almarhum terus drop. Ratusan karya lukis Amri pertama, ratusan lukisan, ratusan batik, buku dan piagam penghargaan ikut ludes terbakar. "Galeri bapak yang jadi kebanggan bapak terbakar membuat bapak shock," katanya.Menurut Emi, almarhum menderita diabetes sejak tahun 2003. Sewaktu galerinya terbakar, kadar gulanya langsung meningkat menjadi 390. Sewaktu melakukan evakuasi harta yang tesisa di galeri usai kebakaan, kaki kiri almarhum tergores kecil hingga menimbulkan luka kecil. Tiga minggu setelah kebakaran, luka kaki Amri semakin parah. Tiga hari menjelang puasa, tepatnya tanggal 1 Oktober 2004, almarhum dilarikan ke RS Sardjito. "Setelah dua minggu dirawat, luka Amri semakin parah dan dokter memutuskan kaki bapak harus diamputasi," kata dia. Menolak keputusan tim dokter, keluarga Amri kemudian berupaya berobat ke rumah sakit di Singapura. Di Singapura, Amri sempat dirawat selama enam hari, tapi kondisinya tetap tak mengalami kemajuan. Karena tidak ada perubahan, kemudian dibawa pulang lagi ke Indonesia dan langsung dirawat di RS Sardjito lagi. Kondisi Amri semakin melemah sejak Jumat (18/12/2004) dan dirawat intensif di ruang ICU. Tiga jam sebelum menghembuskan nafas, tekanan darah Amri Yahya sempatdiperiksa dan menujukkan angka 130. "Tetapi setelah itu, perlahan tetapi pasti tensi bapak menurun sampai wafatnya," imbuhnya.Menurut Emi, sabelum masuk ke ICU, Amri Yahya sempat bercanda dengan anak-anaknya. Amri sempat meminta didoakan dan dituntut salat oleh anak-anaknya. Sebelum meninggal, dia sempat berpesan kepada anak-anak agar meneruskan dan melestarikan kesenian yang sudah dijalaninya selama 45 tahun itu. "Sebelum meninggal ayahnya sering bermimpi naik haji lagi. Padahal bapak sudah naik haji untuk yang ketiga kalinya dan rencana akan haji yang ke-empat, tetapi Allah menentukan lain," kata Emi. (asy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads