Kegelisahan Tokoh Senior Golkar dan Dukungan Ical ke Prabowo-Hatta

Kegelisahan Tokoh Senior Golkar dan Dukungan Ical ke Prabowo-Hatta

- detikNews
Kamis, 22 Mei 2014 04:02 WIB
Kegelisahan Tokoh Senior Golkar dan Dukungan Ical ke Prabowo-Hatta
Jakarta - Partai Golkar melalui ketua umumnya, Aburizal Bakrie (Ical), mendukung pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta. Ternyata pilihan Ical itu menuai kegelisahan di benak para tokoh senior Partai Golkar. Adanya sejarah partai yang berubah hingga masalah kehormatan.

"Apakah posisi JK dianggap tidak cukup merepresentasikan partai atau ada alasan-alasan lain? Apakah ada penerimaan PDIP, Megawati tidak cukup merespon kita, nggak tahu juga," kata Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/5/2014) malam.

"Atau uluran sahabat Pak Prabowo? Itu pertanyaan yang belum dapat penjelasan yang tidak tuntas. Ada hal-hal lain yang memunculkan kegelisahaan dan meluas ini," tambah Priyo usai mendampingi pertemuan para tokoh senior Golkar di hotel berbintang itu.

Pertanyaan-pertanyaan itu karena Golkar selalu mengusung capres atau cawapres setiap pemilu. Salah satu kadernya pun menjadi cawapres mendampingi capres dari PDIP Joko Widodo, namun Ical malah merapat ke Prabowo-Hatta sehingga sejarah Golkar berubah.

"Saya berharap Bapak ketua umum berikan penjelasan kongkrit supaya kongkrit," ujar Priyo.

Sementara terkait keinginan para tokoh senior untuk menggelar musyawarah nasional pada Oktober 2014, Priyo menilai keinginan para senior itu akan dibicarakan lagi lebih lanjut. Karena hal tersebut terkait legalitas dan AD/ART partai yang mencerminkan kehormatan partai.

"Saya personal tidak sependapat (munas pada Oktober 2014), tapi ada yang berpendapat demikian. Kita harus dengar juga, saya sendiri berpandangan mengarah ke sana. Harus ada penjelasan utuh dalam mekanisme badan musyawarah, apakah rapimnas lagi? ataukan cukup rapat pleno partai?" ujar Priyo.

"Beliau (Ical) diberi mandat (rapimnas), kami hormati. Hanya perlu penjelasan, kenapa kita tidak berhasil bentuk poros baru? itu harus ada penjelasan," tambah Priyo.

Apakah karena Partai Golkar ditawari posisi menteri utama? "Saya nggak tahu, di UU nggak ada menteri utama. Apakah itu ekspresi kehormatan? Ya kami hormati," jawab Priyo.

(spt/vid)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini