"Kalau pikiran Pak Luhut begitu, jangan dianggap sebagai pembangkang. Ini bagian dari harga yang harus dibayar karena demokrasi," kata Agung Laksono kepada wartawan di pertemuan senior Golkar dengan ormas Kosgoro, Soksi, dan MKGR, di Hotel JW Marriott, Jakarta, Rabu (21/5/2014).
Menurut Agung, mestinya Golkar menghormati perbedaan. Tidak lantas setiap yang berbeda dicaci-maki.
"Kalau perbedaan langsung ditebas, dimatikan, sudah tidak cocok lagi," kata Agung.
Agung lantas mengenang Pilpres 2004 silam. Kala itu Golkar mengusung Wiranto sebagai capres, namun akhirnya menggeser dukungan ke SBY-JK yang menang.
"Pak Wiranto kalah di putaran pertama. Kedua, lari ke SBY-JK. Kita tidak meninggalkan Pak Wir," kata Agung.
"Keputusan Rapimnas kami hormati. Tapi beliau seorang purnawirawan TNI yang bagus. Saya nggak bisa menelanjangi. Hargai keputusan beliau, barangkali ada hikmah juga bagi partai," pungkasnya.
(van/rvk)











































