Menurut politisi senior Partai Golkar Marzuki Darusman, kedua capres yang bertarung dalam pilpres kali ini memiliki peluang untuk memajukan HAM di masa mendatang.
"(Joko Widodo) Besar sekali karena dia tidak ada bobot (kasus HAM) yang menghambat. Lapang sekali," ujar Marzuki usai memberi kuliah HAM bertema 'Arah dan Kecenderungan HAM dalam Konstelasi Politik Pasca Pemilu' di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/5/2014).
Namun menurut Marzuki, jika peluang tersebut tidak dimanfaatkan, Jokowi justru akan larut dalam kepentingan birokrasi yang bersifat administratif. Jokowi harus memiliki komitmen untuk menyelesaikan persoalan-persoalan HAM yang selama ini tak terselesaikan, seperti kasus diskriminasi dan intoleransi.
Begitupun dengan capres Prabowo. Menurut Direktur Eksekutif Human Rights Resource Center for ASEAN (HRRCA) ini, Prabowo memiliki pemahaman yang lebih baik daripada Jokowi soal HAM.
Marzuki mengilustrasikan pemahaman HAM antara Jokowi dan Prabowo dengan istilah gelas kosong dan terisi setengah. Menurut Marzuki, setengah gelas pun omong kosong jika tidak berkomitmen memulai agenda baru memajukan HAM.
"Saya enggak begitu khawatir gelas Prabowo setengah terisi dan Jokowi belum terisi. Hasil akhirnya bagaimana kita bisa gerakkan kemajuan bangsa. Saya enggak berpihak tapi ingin menarik keluar dua potensi capres ini. Kalau salah satu menang majukanlah agenda itu. Tapi sebelum maju kita bisa tarik komitmen itu yang kita tagih," pungkas mantan Jaksa Agung ini.
(rmd/trq)











































