"Enggak pengaruh. Karena proses politik ini sudah berlangsung lama," ujar Marzuki di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/5/2014).
Marzuki meyakini hal itu, sebab menurutnya, saat Prabowo menjadi cawapres untuk Megawati Soekarnoputri pada pemilu 2009 lalu, isu HAM tidak muncul. Dia mengatakan, yang diperlukan saat ini adalah komitmen yang jelas dari pemerintah untuk dibawa ke mana masyarakat.
"Jadi masalah HAM sekarang ini kalau dari segi Jokowi digambarkan bahwa komitmen pemerintah tidak nyata bukan karena tidak ada niat, tapi karena yang dilambangkan Jokowi adalah soal-soal lain yang tidak ada kaitan dengan HAM. Dari segi Prabowo, sudah terlambat untuk mempermasalahkan isu itu, tidak akan jadi hambatan politik," tutur Direktur Eksekutif Human Rights Resource Center for ASEAN (HRRCA) ini.
Menurut Marzuki, pilpres 2014 harus menjadi momentum untuk memajukan aspek HAM di masa mendatang. Dua capres yang bertarung harus bisa memberikan mendudukan secara tepat persoalan HAM di masa mendatang.
"Sekarang ini yang dirasakan oleh banyak orang adalah ada perasaan negara ini tidak melindungi warganya. Masing-masing warga mencari kesalahan untuk memecah bangsa. Semua mencari ketentraman di sekitar sendirinya. Ini memerlukan satu suasana baru untuk memperbarui semangat. Pilpres jadi satu momentum," imbuhnya.
(rmd/brn)











































