"Saya ingin ada menteri senior, menteri utama yang akan bertindak secara profesional mempercepat pembangunan. Alhamdulillah Pak Aburizal Bakrie bersedia. Jadi dengan menteri utama saya merasa sangat terbantu dan saya menjadi sangat optimis," kata Prabowo di kediaman Ical, jalan Mangunsarkoro, Menteng Jakarta Pusat Senin (19/5/2014).
Menurut Prabowo, Ical punya kapasitas di bidang itu karena punya pengalaman panjang di bidang perekonomian. Ical pernah menjadi Menko Kesra, Menko Perekonomian, pernah memimpin Kadin 10 tahun selama dua periode.
Tawaran untuk jabatan menteri utama rupanya bukan kali ini saja dilontarkan oleh seorang calon presiden. Pada pemilihan presiden dan wakil presiden 2009 lalu, Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono menjanjikan jabatan menteri utama kepada Hatta Rajasa.
Janji diberikan lantaran SBY memilih Boediono sebagai cawapres dalam Pilpres 2009. Seorang sumber detikcom menyebut, Hatta yang menjadi petinggi Partai Amanat Nasional diplot sebagai menteri utama. Saat itu Hatta Rajasa yang menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara dan Gubernur BI Boediono memang menjadi cawapres terkuat yang akan dipilih SBY.
Namun, menjelang pengumuman nama cawapres 15 Mei 2009, SBY akhirnya memilih Boediono sebagai cawapres. "Hatta akan diplot sebagai Menteri Utama atau Menteri Senior. Seperti posisi Lee Kuan Yew di Singapura," kata sumber itu.
Posisi Menteri Utama atau Menteri Senior itu tidak kalah terhormat dengan posisi wapres. Bahkan, kata dia, dalam konsep SBY, posisi Menteri Utama itu memiliki wewenang lebih banyak dibanding wapres.
"Pak Hatta politisi yang jago lobi, bisa masuk ke kalangan apa pun. Nanti Pak Hatta akan mendapat kewenangan yang lebih, seperti akan mengkoordinasikan menteri-menteri kabinet dan juga berkomunikasi dengan parlemen," kata dia.
Saat itu Hatta disebut menerima tawaran SBY untuk menjadi menteri utama. Namun setelah terpilih sebagai presiden, SBY menunjuk Hatta selaku Menteri Koordinator Perekonomian.
(erd/van)











































