Peristiwa itu juga bisa jadi pintu masuk penegak hukum untuk membongkar praktik transaksi barang haram di klab yang berada di Jl Hayam Wuruk, Jakarta Barat, sampai ke akarnya.
Menanggapi persoalan di atas, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budiman, menolak bila tempat hiburan malam kerap diidentifikasi sebagai sarang peredaran dan penyalahgunaan narkoba.
Menurut dia, barang haram yang dapat membuat ketergantungan penggunanya itu ada dimana-mana, bahkan di tempat yang memiliki keamanan tingkat tinggi sekali pun.
"Narkoba ada di mana-mana, di penjara super maksimum security saja ada," katanya saat berbincang dengan detikcom, Selasa (20/5/2014).
Pasca peristiwa tewasnya Brigadir JVG, Polres Jakarta Barat menyisir tiap sudut Stadium. Tidak ada hingar-bingar musik menghentak lagi setelah peristiwa itu. Hasilnya, sebanyak 4.500 butir pil ekstasi ditemukan di sebuah loker karyawan.
Di tempat sama, aparat menemukan 500 gram sabu, 55 tablet happy five, serta sepucuk pistol Barreta. Penyidik Polres Jakarta Barat masih mengendus empunya barang-barang bukti itu.
Padahal sebelumnya, aparat setempat mengklaim berhasil mencokok beberapa orang yang menjadi pengedar narkotika di stadium dalam operasi yang digelar mulai dari 1-20 April 2014.
Belum lagi BNNP DKI Jakarta tepat sebulan lalu 20 April, menjaring 28 pengunjung Stadium yang positif mengkonsumsi narkoba dalam operasi yabf digelar bersama POM TNI. Dalam razia tersebut ditemukan barang bukti narkoba yang disebut-sebut milik oknum polisi. Namun pihak BNNP DKI Jakarta tegas membantahnya.
Nama Stadium sendiri bukan kali pertama terseret dalam lingkaran penyalahgunaan narkoba dan mencuat ke tengah publik. Beberapa kejadian yang terekam detikcom menyeret nama diskotek yang cukup pamor diantara pegila dugem.
Sebut saja tragedi Tugu Tani di Minggu (22/1/2012) pagi. Sembilan orang tewas dihantam pengendara Xenia yang diketahui bernama Afriyani Susanti. Hasil pemeriksaan petugas, sopir maut itu berada di bawah pengaruh ekstasi.
Kepada penyidik, dia mengaku dirinya dan beberapa rekannya membeli pil setan itu di Diskotek Stadium.
Kasus seorang model majalah dewas Novi Amelia yang sempat buat heboh di pekan kedua November 2013, juga menyeret Stadium. Seorang sopir taksi membawa Novi dari diskotek tersebut tanpa arah tujuan dan hanya berputar-putar di lokasi Stadium.
Sang sopir akhirnya membawa perempuan asal Medan itu ke Polsek Menteng. Di kantor polisi dia mengamuk dan hendak membuka bajunya.
Perempuan bertubuh sintal itu sebenarnya belum lama keluar dari terapi medis di RS Ketergantungan Obat Cibubur pasca upaya melukai diri sendiri sebagai dampak halusinogen narkoba.
Dia juga menjadi terdakwa dalam kasus kecelakaan lalu lintas di Tamansari sebagai akibat yang sama dari penyalahgunaan narkoba.
Atau kasus yang melibatkan Polwan yang menyandang pangkat perwira pertama, Iptu R. Polwan di Polres Jakarta Selatan dinyatakan positif mengkonsumsi ekstasi. Mantan Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) itu mengaku sempat menelan pil ekstasi saat joget-joget di Diskotik Stadium.
Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, akhir Maret 2013 lalu melontarkan pernyataan bahwa diskotek merupakan sarang narkoba. "Diskotek ini tempat berkumpulnya para pengguna. Diskotek ini sarangnya narkoba," tegas Anang, Senin (23/12/2013) lalu.
Indikator yang digunakannya sederhana, yaitu hasil razia BNN sepanjang tahun 2013 terhadap 30 diskotek yang beroperasi di wilayah Jakarta. Hasilnya, ditemukan sebanyak 207 pengunjung yang positif mengkonsumsi narkoba.
"Kalau ada pengguna berarti ada yang mengedarkannya," kata Anang.
Kadis Pariwisata Arie Budiman sendiri tegas membantah hal itu. Menurutnya, tempat hiburan malam adalah ruang terbuka publik, sehingga tidak memungkinkan adanya penyalahgunaan narkoba.
"Tempat hiburan itu ruang publik, kalau lebih canggih pakai di tempat-tempat private," bantah Arie.
Arie meminta bahwa persoalan tempat hiburan tidak melulu dipandang sebagai sesuatu yang negatif, tapi juga dilihat dari sisi ekonomi pendapatan daerah dan peluang lapangan kerja.
"Kita (Pemda) apresiasi pengusaha untuk mau berinvestasi dan membuka lapangan kerja. Apalagi mereka memberikan kontribusi ke pajak daerah," puji Arie.
Akankah Polres Jakarta Barat membongkar tuntas praktik peredaran narkoba di Stadium sampai ke akarnya dan berani menyentuh apabila ada pihak dan oknum yang melindunginya?
(ahy/fdn)