Pesan Kebangkitan Nasional dari Bos Tahu Pekerja Keras

Pesan Kebangkitan Nasional dari Bos Tahu Pekerja Keras

- detikNews
Selasa, 20 Mei 2014 17:20 WIB
Pesan Kebangkitan Nasional dari Bos Tahu Pekerja Keras
Jakarta - Hampir 20 tahun Siswanto (37) menjadi buruh pabrik tahu. Namun, dia tidak patah semangat untuk merubah nasibnya untuk lebih maju dari sekedar menerima gaji hasil keringatnya. Setahun lalu, dia bangkit. Dari seorang buruh menjadi pengusaha sekaligus pemilik pabrik makanan yang berbahan dasar biji kedelai ini.

"Hampir 20 tahun saya kerja jadi pekerja pabrik tahu. Keliling-keliling pabrik sebelum saya di sini. Sampai akhirnya saya memutuskan buat jadi pengelola pabrik," ujar Siswanto saat ditemui di pabrik tahu yang dikelolanya di bilangan Mampang, Selasa (20/5/2014).

Setahun lalu, tepat di hari kebangkitan nasional, menjadi momentum Siswanto membangkitkan pabrik pengolahan makanan asal Tiongkok ini. Di tanah seluas 5 x 10 meter yang disewanya, dia menaungi delapan pekerja.

Beralih dari buruh menjadi seorang pengusaha, tentu membawa nilai ekonomi lebih. Bila dulu Siswanto mengantongi Rp 80 per hari, namun dengan gebrakan yang dilakukannya omzet yang diperolehnya mencapai jutaan rupian per hari.

"Saya nggak ngitung pastinya sih, tapi sebulan ada sekitar Rp 5.000.000 yang saya terima bersih," sebut Siswanto.

"Kalau kotornya sih bisa berapa puluh juta sebulan, dikurang belanja kedelai Rp 850.000 per kuintal dikali seratus, listrik, upah karyawan, dan sewa bangunan sama alat-alatnya yang setahun Rp 15.000.000," papar dia.

Istri dan kedua anaknya tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Di Jakarta dia tinggal di bangunan yang terbuat dari seng pada atas pabrik bersama dengan para karyawan yang dia pekerjakan.

Tak hanya tidur bersama karyawan, meskipun seorang bos dia juga ikut bekerja bersama membuat tahu. Status sebagai atasan tak menjadi halangan untuk tak bekerja. "Saya nggak bisa kalau cuma menonton anak buah saya kerja. Jadi saya juga ikut bekerja. Target satu hari itu 4,5 kuintal atau sekitar 135 papan," kata dia.

Tak heran jika karyawan yang dia pekerjakan betah bekerja. Setiap bulannya dia menggaji seorang karyawan minimal Rp 1.500.000.

"Yang penting buat saya adalah sama-sama kerja sama-sama bangkit. Kebangkitan itu ya gotong-royong buat memajukan kita. Kalau semua orang gotong-royong ya Indonesia maju," ungkap Siswono di akhir waktu rehat dia.

Harga kedelai yang tidak pernah menentu menjadi persoalan bagi usahanya. Naiknya kedelai tidak otomatis membuat harga tahu ikut melambung. Ditambah lagi dengan serbuan kedelai impor yang makin membuat usaha kecilnya kembang-kempis.

(bpn/ahy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini