Kala Kalla Genggam Golkar (1)
Cerita Koalisi Kebangsaan Tamat
Senin, 20 Des 2004 09:50 WIB
Jakarta - Meski sudah pasti menang di pertengahan perhitungan suara, saat kertas suara terakhir disebutkan, wajah H Muhammad Jusuf Kalla tetap bersinar cerah. Kalla berhasil mengungguli pesaingnya, Akbar Tanjung sebagai ketua umum Partai Golkar di Munas VII di Bali, Minggu (19/12/2004).Sejak awal penghitungan suara, Kalla memang langsung melesat. Berkali-kali namanya disebut tanpa diselingi nama Akbar Tandjung. Hasil akhir menunjukkan 323 suara untuk Kalla, dan 156 suara untuk Akbar. Sedangkan 3 suara dinyatakan tidak sah.Dari semula hajatan besar Partai Golkar yang digelar di The Westin Resort, Nusa Dua, Bali, ini memang berlangsung seru. Berbagai strategi dan 'akal-akalan' dilakukan oleh mereka yang berminat duduk di puncak beringin. Tentu saja, biar tidak mudah KO mereka juga membekali diri dengan 'gizi' yang cukup.Nama-nama yang sempat disebut-sebut sebagai calon ketua umum Partai Golkar adalah, Akbar Tandjung, Jusuf Kalla, Slamet Effendy Jusuf, Wiranto, Agung Laksono, Surya Paloh dan Marwah Daud. Namun semakin mendekati hari H, satu persatu nama-nama tersebut berkurang.Slamet Effendy Jusuf mengundurkan diri. Pria yang menjabat sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Golkar ini merasa dirinya bukan orang yang tepat. Slamet mengatakan dirinya bukan kader partai yang terbaik.Agung Laksono dan Surya Paloh malah memilih merapat ke kubu kandididat lainnya. Mereka sepakat mendukung pencalonan Jusuf Kalla menuju singgasana pimpinan Partai Golkar.Wiranto sendiri, setelah tercipta sejumlah kesepakatan akhirnya memilih mendukung Akbar. Wiranto dijanjikan akan diangkat sebagai Ketua Dewan Penasihat. Tak hanya itu, Akbar juga berjanji akan mendukungmantan Panglima TNI itu sebagai capres di Pemilu 2009.Sementara Marwah Daud akhirnya harus menerima kenyataan dirinya tidak diminati warga beringin. Dia tersingkir dalam penjaringan calon ketua umum PartaiGolkar karena hanya meraih 13 suara.Kemenangan Kalla dalam Munas Partai Golkar VII ini tentu bukan tanpa efek samping. Banyak pihak langsung teringat akan nasib Koalisi Kebangsaan. Diperkirakan koalisi yang dibangun Partai Golkar dengan PDIP dan PPP saat usai Pemilu Legislatif 2004 lalu akan tamat.Bukan tidak mungkin, PDIP bakal bernasib seperti Macaulay Culkin dalam film home alone. Setelah sebelumnya PPP menyatakan cabut dari Koalisi Kebangsaan, kini teman terpenting, yakni Partai Golkar, akan mengubah arah politik."Kemenangan Kalla adalah selesainya cerita Koalisi Kebangsaan. PDIP harus berjuang sendiri dan akan terisolasi di parlemen," kata Pengamat Politik UI,Dr. Maswadi Rauf.Jika demikian yang terjadi PDIP akan seperti dulu, berjuang sendiri di parlemen. Kondisi ini harus segera disikapi oleh PDIP. Partai berlambang banteng dalam lingkaran bulat ini perlu keputusan-keputusan yang cerdas.Jika Macaulay Culkin ketika sendirian dalam Home Alone menjadi cerdas dan berhasil meperdayai penjahat, bagaimana kecerdasan PDIP di kancah politik tanpa partner nanti? Apakah 'keculunannya' ketika menjadi pemenang Pemilu 1999 dan partai berkuasa, akan terulang?
(diks/)











































