"Jangan sampai kader-kader terbaik Polri yang tidak punya uang, tidak punya jalur, dan tidak punya kedekatan dengan jenderal tertentu tidak akan bisa lolos untuk mengikuti Sespim," jelas Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam surat elektroniknya, Selasa (20/5/2014).
IPW menilai jika sistem yang sekarang tetap dipertahankan, ke depan Polri akan diisi oleh kader-kader yang piawai berkolusi. Kader-kader terbaik dan kader-kader idealis di Polri akan "terbunuh", terpuruk serta prustasi.
"Isu yang berkembang untuk bisa lolos ke Sespim seorang calon harus mengeluarkan uang besar. Tak heran, banyak perwira yang harus menjual rumah, mobil maupun harta bendanya agar bisa lolos ke Sespim," jelas Neta.
Sistem yang ada sekarang membuat Sespim menjadi jembatan emas menuju jenjang karir. Jika tidak ikut Sespim, karir seorang anggota Polri bakal terpuruk. Sebab itu para pamen harus berjuang mati-matian agar bisa lolos ke Sespim.
"Kondisi inilah yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk "memeras" para calon. Berbagai rekayasa dilakukan. Yang terbaik bisa menjadi terburuk dan yang terburuk malah bisa lolos ke Sespim," terang Neta.
Situasi ini harus segera diperbaiki Polri agar kader-kader terbaik bisa diselamatkan dan tidak dikorbankan. Antara lain keberadaan panitia daerah perlu dibubarkan. Sebab indikasi permainan di sini sangat tinggi.
"Selain itu hasil tes para calon harus discan agar tidak bisa diubah atau direkayasa. Propam Mabes Polri perlu mengontrol secara ketat agar isu bayar membayar dan suap menyuap di dalam proses rekrut dan pendidikan, terutama di Sespim bisa dihindari. Propam perlu melakukan operasi tangkap tangan dan membawa pelakunya ke pengadilan Tipikor agar Tindak Pidana Pencucian Uang dari hasil suap menyuap di balik pendidikan Polri bisa dibongkar," jelasnya.
Hingga berita ini diturunkan Div Humas Polri belum memberikan tanggapan.
(nal/ndr)











































