Last Minute Golkar Merapat ke Prabowo, Bagaimana dengan Demokrat?

Last Minute Golkar Merapat ke Prabowo, Bagaimana dengan Demokrat?

- detikNews
Senin, 19 Mei 2014 18:48 WIB
Last Minute Golkar Merapat ke Prabowo, Bagaimana dengan Demokrat?
Jakarta - Partai Golkar dan Partai Demokrat menjadi dua partai yang belum menentukan pilihan politik di saat-saat kritis jelang hari terakhir pendaftaran pasangan capres cawapres. Namun last minute, Golkar memutuskan bergabung dalam koalisi Prabowo-Hatta. Sementara Demokrat masih menggantung.

Akankah Demokrat akhirnya mengikuti langkah Golkar, atau tetap bersikap netral dengan tidak memilih mendukung Jokowi ataupun Prabowo?

"Dugaan saya Demokrat akan tetap netral, seperti hasil rapimnas," ujar pengamat politik dari Indo Barometer, M Qadari saat berbincang dengan detikcom, Senin (19/5/2014).

Sesuai hasil rapimnas, kata Qadari, ada opsi untuk membangun poros baru bersama Golkar atau bersikap netral jika tidak mendukung Jokowi ataupun Prabowo. Namun upaya penjajakan poros baru dengan Golkar tampaknya gagal karena Demokrat menurut dia, tidak menginginkan Aburizal Bakrie (Ical) menjadi capres.

Jika benar Demokrat melalui ketua umumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mengumumkan sikap definitifnya pada 20 Mei, maka sikap itu menurut Qadari sangat terlambat. Jika Demokrat masih ingin bertarung dalam pilpres, lanjut dia, Demokrat harus memutuskan sikapnya hari ini.

"Hari ini kan semua sudah deklarasi. Kalau besok, basi. Ketinggalan banget. Membentuk poros sendiri pun tidak mungkin. Saya kira Demokrat bisa memilih tetap netral," imbuhnya.

Menurut Qadari, posisi ketua umum partai yang diemban SBY berbeda dengan posisi ketum partai lain. SBY tidak hanya sebagai Ketum Demokrat, tapi juga presiden RI. Artinya, kata Qadari, SBY sebagai incumbent tentu mempertimbangkan juga akhir pemerintahannya berakhir baik, tidak berjarak dengan siapapun, dan diterima pihak manapun. Dengan memberikan dukungan politik kepada salah satu capres, menurut Qadari, sama artinya dengan SBY membuat jarak dengan capres lainnya.

"Katakanlah dukung Prabowo-Hatta. Jika menang, maka ok untuk SBY. Tapi bagaimana jika kalah, SBY akan tercitrakan kurang baik dan berjarak dengan partai politik lainnya. Sudah Demokrat suaranya anjlok, ternyata dukungan SBY tidak mampu mendongkrak," cetusnya.

"Kan juga ada presedennya, 2004 PKB netral dari awal. Karena Gus Dur tidak bisa maju capres meski sudah daftar lantaran tidak lolos tes kesehatan. Jadi SBY akan lebih memilih sikap kenegarawanan dengan tidak memilih siapapun, tetap netral," pungkas Qadari.

(rmd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads