Aksi ini diawali dengan longmarch dari depan pagelaran keraton dan diikuti para pengemudi becak menuju depan Gedung Agung dengan melawan arus. Sebagian mereka mengenakan baju adat Yogya, sambil terus berorasi hingga depan Gedung Agung.
Di depan Gedung Agung mereka didatangi oleh petugas Jogoboro dari UPT Malioboro. Salah satu petugas bernama Jiyono langsung menanyakan kepada koordinator aksi Arie Yanetra terkait aksi tersebut. Aksi tersebut dianggap hanya mengada-ngada. Petugas meminta massa bubar, karena jika tidak akan datang kelompok lain untuk membubarkan paksa.
"Kami diperintahkan dari kelompok Sekber Pak Widihasto untuk membubarkan aksi ini. Selama ini Sultan tidak bilang untuk maju, kok ini ada kelompok entah dari mana yang mengajukan Sultan. Jangan memanfaatkan Sultan," kata petugas di depan Gedung Agung Yogyakarta.
Massa kemudian mempercepat aksi dengan segera membagi-bagikan nasi tumpeng dan segera bubar. Poster-poster bergambar Sultan HB X yang tertempel di becak diminta untuk dilepas semuanya. Massa pun kemudian balik ke arah selatan dan membubarkan diri.
Koordinator aksi Jarkindo, Arie Yanetra mengatakan, aksi ini tidak ditumpangi oleh partai mana pun. Dan hanya ingin meminta kerelaan Sultan maju sebagai capres untuk menyelesaikan berbagai masalah bangsa. Dan aksi tersebut merupakan dukungan moral kepada Sultan.
(nrl/nrl)











































