Golkar Melakukan Suksesi, tapi Tidak Regenerasi
Minggu, 19 Des 2004 09:07 WIB
Jakarta - Keinginan sejumlah kader agar Golkar dipimpin oleh kaum muda tidak menjadi kenyataan dalam Munas VII Golkar. Kemenangan M Jusuf Kalla sebagai ketua umum Golkar memang memperlihatkan bahwa Golkar melakukan suksesi kepemimpinan. Tapi, Golkar belum melakukan regenerasi. Kalla sebenarnya sudah tidak muda lagi. Pada Mei 2005, usia Kalla sudah 63 tahun. Namun, tampaknya Kalla tetap merupakan pilihan terbaik buat Golkar sampai 2009. Kalla menyingkirkan Akbar Tandjung dengan jumlah suara telak. Keinginan politisi muda agar Golkar dipimpin tokoh-tokoh muda, berusia di bawah 50 tahun, telah menggema sejak lama, sebelum Munas VII digelar di Bali. Mereka berpikir Golkar akan maju pesat bila dipimpin oleh anak-anak muda. Apalagi, pada 2009, Golkar sangat berkepentingan dengan pemilihan presiden. Namun, regenerasi ini tidak terjadi. Sebenarnya, sinyal-sinyal bahwa regenerasi di Golkar tidak akan terjadi sudah terlihat beberapa hari menjelang Munas. Yaitu, dengan munculnya para calon ketua umum yang usianya sudah senja. Dari tujuh calon yang sempat menyatakan akan maju sebagai ketua umum Golkar, hanya Marwah Daud Ibrahim yang usianya di bawah 50 tahun. Keenam calon lainya, Jusuf Kalla, Akbar Tandjung, Wiranto, Slamet Effendy Yusuf, Agung Laksono, dan Surya Paloh sudah bersuai di atas 50 tahun. Dari keenam orang ini, Kalla berusia paling tua, 63 tahun, sedangkan Surya Paloh yang berusia paling muda, 54 tahun. Jika memang Golkar berpikir regenerasi, seharusnya Marwah Daud yang paling layak, karena masih berusia di bawah 50 tahun. Sayangnya, Marwah miskin dukungan. Dalam penjaringan calon ketua umum, Marwah hanya mendapatkan 13 suara. Harapan kini tinggal harapan. Dengan hasil Munas VII Golkar ini, maka sampai 2009, Golkar dipimpin oleh politisi yang berusia sepuh. Lebih tua daripada Akbar saat menjadi ketua umum Golkar tahun 1998. Saat terpilih menjadi ketua umum Golkar dalam Munaslub tahun 1998, Akbar berusia 54 tahun. Tidak munculnya regenerasi di Golkar ini, kata Muchyar Yara, salah seorang kader Golkar yang dinonaktifkan sebagai wasekjen DPP Golkar, karena golongan tua masih ingin mendominasi kekuasaan. "Kalau Kalla menjadi ketua umum Golkar, maka tahun 2009, dia sudah berusia 67 tahun. Bagaimana nanti bisa bersaing untuk memperebutkan presiden," ungkap Muchyar. Padahal, sebenarnya, masih banyak tokoh-tokoh muda Golkar yang layak memimpin Golkar. Selama ini Golkar masih menyimpan sejumlah kader muda yang potensial. "Tapi, mereka tidak mau maju, karena golongan tua masih mendominasi. Seharusnya, golongan tua bisa mendorong kalangan muda untuk maju," kata dia.
(asy/)











































