Kalla Menang, Suara Akbar-Wiranto Tak Ampuh Lagi

Kalla Menang, Suara Akbar-Wiranto Tak Ampuh Lagi

- detikNews
Minggu, 19 Des 2004 06:37 WIB
Jakarta - Kedigdayaan Akbar Tandjung dan Wiranto tidak ampuh lagi di Munas VII Golkar. Akbar yang didukung Wiranto tidak mampu mengalahkan M Jusuf Kalla, kader Golkar yang kini menjabat wakil presiden RI. Akbar dikalahkan Kalla dengan angka telak. Dalam pemilihan ketua umum Golkar yang berakhir pukul 04.30 WIB, Minggu (19/12/2004), Kalla meraih 323 suara, sedangkan Akbar hanya bisa mengumpulkan 156 suara. Suara tidak sah 3 buah. Kemenangan Kalla sebenarnya sudah terlihat pada saat penjaringan calon. Dalam penjaringan calon, Kalla mendapatkan suara jauh lebih tinggi dari Akbar. Kalla meraih 256 suara dan Akbar meraih 191 suara. Sedangkan Marwah yang hanya mendapatkan 17 suara, harus tersingkir dari pencalonan, karena suaranya kurang dari 150 suara. Hasil Munas Golkar ini merupakan pukulan telak bagi kubu Akbar. Pasalnya, kubu Akbar optimistis akan memenangkan pertarungan karena tatib Munas sudah diubah. Jumlah pemilik hak suara makin menggelembung, setelah DPD-DPD II Golkar diberi hak suara. Dalam draf sebelumnya, pemilik hak suara hanya 36, dan setelah diubah pemilik hak suara menjadi 484 suara. Akbar mengaku diuntungkan dengan perubahan tatib Munas. Perubahan ini juga dinilai banyak kalangan sebagai strategi Akbar untuk mengkerdilkan dukungan terhadap Kalla. Apalagi, saat itu Akbar sudah mendapatkan sinyal kuat didukung Wiranto. Optimisme Akbar dan kubunya memenangkan pemilihan ketua umum Golkar ini menguat setelah Sabtu (18/12/2004), Wiranto resmi mendukungnya. Maklum, Wiranto adalah pemenang konvensi Golkar dan mantan calon presiden yang diajukan Golkar pada pemilihan presiden tahap pertama. Karena itu, wajar bila Wiranto masih dianggap masih menyimpan 'timbunan suara' dari DPD-DPD II Golkar. Dengan bergabungnya kekuatan Akbar dan Wiranto, diperkirakan DPD-DPD II Golkar tetap masih berpihak kepada kekuatan ini. Tapi, tampaknya anggapan ini tidak terbukti. Akbar kalah telak. Bahkan, dalam pemilihan ketua umum, suara Akbar malah merosot tajam dibanding pada saat penjaringan calon. Kekalahan Akbar dari Kalla ini menimbulkan pertanyaan, ke mana suara Akbar dan pendukung Wiranto? Dengan hasil pemilihan umum Golkar ini, maka bisa dikatakan bahwa suara-suara DPD II Golkar memang tidak tergantung pada salah satu figur. Di konvensi, bisa jadi mereka mendukung Akbar dan Wiranto, tapi di Munas, mereka sudah mengubah pilihannya. Memang, sempat terdengar isu money politics menjelang pemilihan ketua umum Golkar. Seorang calon diisukan menjanjikan uang tertentu kepada DPD II-DPD II. Setiap DPD II akan diberi uang Rp 50 juta bila sang calon menang. Rp 25 juta dibayar di muka dan Rp 25 juta dibayar di belakang, setelah sang calon resmi menang. Tapi, bisa saja isu ini hanya ditiupkan oleh kekuatan lawan untuk mendiskreditkan kompetitornya. Dan bila memang money politics bermain dalam Munas ini, tentu hal itu juga sulit dibuktikan. Diperkirakan hal seperti ini akan menguap begitu saja. Sama seperti dalam konvensi Partai Golkar yang lalu. Selain faktor isu money politics, dengan kemenangan Kalla, bisa saja memang DPD-DPD Golkar menginginkan perubahan. Mereka menginginkan pemimpin baru. Akbar yang sudah lebih lima tahun memimpin Golkar bisa saja dianggap gagal memimpin Golkar, meski laporan pertanggungjawaban Akbar diterima di Munas. Tapi, untuk memastikan bagaimana suara-suara DPD-DPD II Golkar bisa mendukung Kalla, itu memang sulit diketahui. Itu menjadi rahasia antara kubu Kalla-Paloh-Agung Laksono dengan DPD I dan DPD II Golkar itu. Tahu sama tahu. (asy/)


Berita Terkait