Penyebab pertama adalah elektabilitas peserta konvensi PD yang rendah. Apalagi jika dibandingkan dengan dua capres papan atas yakni capres PDIP Joko Widodo (Jokowi) dan capres Gerindra Prabowo Subianto.
"Ternyata memang elektabilitas para kandidat konvensi dibandingkan dengan kandidat capres yang lainnya, dua yang populer itu memang sangat jauh. Rata-rata hanya sekitar 2 persen. Bahkan yang paling tinggi cuma 2,9 %. Sementar Jokowi kan 40% dan Prabowo 35% . Ini kan sangat jauh sekali," kata Syarief di kantor DPP PD, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Jumat (16/5/2014) petang.
Peluang PD mengusung capres kian sempit lantaran perolehan suara PD di Pileg hanya berkisar 10 persen. "Kedua, kalau toh PD akan berkoalisi, maka posisi PD itu tidak mungkin untuk mencalonkan capres. Sementara konvensi ini untuk mencari capres. Itu situasi yang dialami PD," kata Syarief.
Tak hanya itu, posisi PD juga kian sulit. Kalaupun berkoalisi atau membangun poros baru juga sulit mengusung capres.
"Ya nggak bisa karena kalau bikin poros baru, suara PD kan cuma 10%. Nah kalau kita ajak partai lain untuk memenuhi PT berarti kan mengajak partai yang besar. Berarti yang 14%. Kalau PD hanya 10% tentu jatahnya capres jatah yang paling besar kan. Masalahnya di situ bagi PD," kata Syarief.
Namun PD berharap ada capres yang tertarik mengambil cawapres dari peserta konvensi capres PD. "Karena kapasitas dari para capres dari konvensi ini sudah cukup bagus maka mungkin kami sarankan untuk ambil dari daftar yang ada di peserta konvensi. Silakan," ujar Syarief menawarkan.
(van/nrl)











































