"Oh jelas trauma. Apalagi itu (pelakunya) adalah pelatihnya sendiri. Sekarang anak saya nggak mau latihan tenis lagi setelah kejadian itu," ucap sang Bunda kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (16/5/2014).
Sang bunda mengungkapkan, peristiwa itu terjadi sekitar Agustus 2013 lalu, ketika korban masih berusia 16 tahun. Saat itu, DP mendatangkan pelatih dari luar negeri untuk meningkatkan kemampuan para atletnya.
"Terus anak saya ikut sesi pertama, seminggu di Senayan, minggu keduanya di Puncak," ungkapnya.
Setelah selesai mengikuti pelatihan tersebut, korban kembali mendapat tawaran pelatihan dari pelatih asing untuk kedua kalinya. Korban pun mengikuti pelatihan sesi kedua.
"Ditawarin kalau mau, kamu nanti malam ke rumah saya, begitu kata pelatihnya," imbuhnya.
Malam itu, sang Bunda kemudian mengantar korban ke rumah terlapor di kawasan Slipi Jakarta Barat. Korban kemudian menginap di rumah terlapor.
Malam harinya, korban kemudian dibawa ke kamar sang pelatih. Pintu kamar kemudian dikunci oleh pelatih.
"Anak saya takut dan tidak ngerti, karena handphone ada di atas, sementara kamarnya di bawah, jadi anak saya tidak bisa nelpon," ungkapnya.
Mengetahui sedang dalam bahaya, korban kemudian mencoba melarikan diri. Korban berpura-pura meminta izin untuk mengambil minum.
"Lalu anak saya izin minum, dia loncat pagar, lari ke depan rumah itu sambil nangis," cetusnya.
Karena tasnya tertinggal di rumah sang pelatih, korban kemudian pulang ke rumahnya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan dengan naik ojek.
"Anak saya kemudian cerita sama saya," pungkasnya.
(mei/aan)











































